Selasa, 07 Februari 2012

Waspada Logam Berat dalam Mainan Anak


Oleh Zika Zakiya  | 27-01-2012 | http://ngi.cc/nHr | kesehatan

Waspada Logam Berat dalam Mainan Anak
Indra Widi/Fotokita.net
 
Mainan edukasi yang banyak beredar di pasaran ternyata tidak aman untuk anak-anak. beragam jenis maninan edukasi untuk anak berumur 2-5 tahun mengandung logam berat berupa timbal (Pb), merkuri (Hg), kadmium (Cd), dan kromium (Cr).

Penelitian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bersama Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menemukan empat macam logam berat itu berasal dari cat yang dipakai pada mainan tersebut.

Sunardi, peneliti di laboratorium FMIPA UI mengatakan, logam berat bisa merusak otak, menyebabkan kelumpuhan, mengurangi kecerdasan, merusak ginjal, serta kanker. "Besarnya dampak logam berat pada anak tergantung dari jumlah logam berat yang masuk ke tubuh," kata Sunardi, Rabu (25/1), di YLKI, Jakarta.

Noor Jehan, peneliti YLKI mengatakan, fokus penelitian pada ada atau tidaknya kandungan logam berat pada anak-anak. Alasannya, kandungan logam berat berpotensi masuk ke tubuh anak lewat mulut karena cat mudah mengelupas.

"Jika hanya dilihat dari absorbsi logam berat melalui kulit, logam berat yang terdapat pada mainan edukasi masih memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Namun, ada potensi logam berat tertelan lewat cat yang menempel di tangan anak," kata Jehan.

Ia mengambil contoh 21 mainan edukasi anak-anak yang dijual di mall, pasar, dan pusat perbelanjaan di lima wilayah DKI Jakarta. Mainan itu antara lain sempoa, kereta kayu, balok ukur, balok rumah-rumahan, dan puzzle.

Hasilnya, hanya satu jenis mainan yang tidak mengandung logam berat."Saya tidak tahu mainan itu berasal dari dalam atau luar negeri karena disamarkan nama dan negara asalnya," kata Sunardi.

Jehan mengatakan, mainan edukasi yang mengandung logam berat merupakan buatan dalam dan luar negeri. "Tidak ada jaminan. mainan impor atau lokal, mahal dan murah, sama-sama mengandung logam berat. Pada mainan yang mencantumkan label non-toxic (tidak beracun) pun ada logam beratnya," katanya.

Sunardi menyatakan, selain mainan anak-anak, yang juga perlu diwaspadai adalah krayon yang biasa digunakan oleh anak-anak-anak untuk mewarnai. Zat warna pada krayon perlu diteliti kandungannya karena pembungkus krayon sering terbuka. Pewarna yang menempel di tangan anak bisa tertelan. (Sumber: Kompas).

Kayu Nangka Cegah Wabah Pes


Oleh Olivia Lewi Pramesti  | 25-01-2012 | http://ngi.cc/nHb | kesehatan

Kayu Nangka Cegah Wabah Pes
 
Kayu nangka ternyata mampu mencegah wabah pes.Hal ini sudah terbukti sejak tahun 1870-an silam.

Sejarawan Arif Akhayat, M.A., mengatakan di era tahun 1870-an kayu nangka dikenal luas di pulau Jawa. Keterkenalan kayu nangka ini disebabkan karena minimnya pasokan kayu jati dari daerah Jepara.

Bermula dari proyek tanam paksa Belanda dalam pembangunan perumahan dan jalan, sangat dibutuhkan banyak tenaga kerja. Untuk menampung para pekerja tersebut maka dibuatlah rumah sementara yang terbuat dari bambu. Setelah mereka tinggal di rumah bambu, banyak pekerja yang terserang penyakit pes. Bahkan penyakit ini menyebar luas ke masyarakat.

“Waktu itu, bambu diganti dengan kayu nangka agar tidak digerogoti tikus. Dengan kayu nangka, rumah tidak dimakan oleh serangga. Jadi kayu nangka mengurangi serangan pes,” papar Arif di di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, Selasa (24/1).

Sementara itu, Pemerhati Bangunan Cagar Budaya, Dr. Laretna Adhisakti, mengatakan sebenarnya kayu nangka sudah dimanfaatkan sejak dulu kala dalam  bangunan kuno di Jawa dan kandang ternak.

“Memang untuk bangunan baru sekarang jarang menggunakan nangka. Tapi bangunan kuno yang saya temukan terbuat dari kayu nangka. Bahkan banyak kandang kerbau dan sapi banyak dari kayu nangka,” ujarnya.

Nangka akbrab digunakan masyakarat Indonesia khusunya Yogyakarta untuk membuat gudeg. Namun menurut  Bupati Sleman Yogyakarta, Sri Purnomo, kayu pohon nangka pun bisa dimanfaatkan sebagai bahan perkakas dan mebel. “Pengusaha mebel kayu nangka perlu kita dorong ke arah itu,” katanya.

Kendati hasil mebel kayu nangka masih kalah pamor dengan mebel kayu jati, Sri optimis mebel kayu nangka akan mendapat respon positif dari masyarakat. Terutama jika dilakukan sosialisasi dan promosi dengan cukup baik.

Studi: Pria Lebih Mudah Berkonflik Dibanding Perempuan


Oleh Zika Zakiya  | 24-01-2012 | http://ngi.cc/nH3 | kesehatan

Studi: Pria Lebih Mudah Berkonflik Dibanding Perempuan
 
Konflik yang kerap terjadi di jalan, di kantor, atau bahkan di lapangan pertandingan olahraga, ternyata bisa dipicu oleh faktor kehadiran kaum laki-laki. Menurut penelitian, pria sudah memiliki insting untuk agresif terhadap siapa pun yang mereka anggap sebagai 'orang luar'.

Dalam kehidupan awal manusia di Bumi, konflik dan kekerasan antar lelaki bisa meningkatkan status dan lebih mudah mendapat pasangan. Namun, sejalan dengan perkembangan manusia dan teknologi, bentuk kekerasan dan konflik ini bisa berubah menjadi perang dalam skala besar.

Sebaliknya, kaum perempuan dianggap lebih 'lembut dan bersahabat'. Sifat ini dikembangkan kaum Hawa dengan tujuan bisa meredakan konflik dengan cara damai agar bisa melindungi anak-anaknya.

Kesimpulan ini ditarik dalam sebuah studi dalam Philosophical Transactions of the Royal Society B. Studi ini merupakan paparan bukti evolusi hipotesa 'pejuang laki-laki'.

Studi ini juga menjelaskan mengapa lelaki lebih bisa dalam menjalin ikatan kelompok dan akan memiliki hubungan kuat dengan anggota di dalamnya. Terutama jika saat itu mereka tengah bersaing dengan kelompok lain.

Evolusi hubungan lelaki dengan rekan sesama anggota kelompok dan dengan 'pihak luar' menjadi penyebab perang antara negara atau pun kerajaan di masa lalu. Sedangkan di masa modern, pertikaian ini bisa terlihat dalam perang antar kelompok suporter olahraga.

"Solusi konflik yang sudah menjadi masalah umum dalam masyarakat sekarang ini tetap sulit dipahami. Salah satu alasannya karena kita sulit mengubah pola pikir yang sudah berevolusi selama ribuan tahun," kata Prof Mark van Vugt sebagai pemimpin studi ini.(Sumber: The Telegraph UK)

Aborsi Makin Dilarang, Makin Berkembang


Oleh Zika Zakiya  | 20-01-2012 | http://ngi.cc/nGV | kesehatan

Aborsi Makin Dilarang, Makin Berkembang
 
Tingkat aborsi tertinggi ternyata terjadi di negara-negara yang melarang kegiatan ini. Dan seluruh kegiatan aborsi di dunia nyaris semuanya tidak dalam proses yang aman.

Menurut penelitian terakhir, aborsi di Afrika dan Amerika Latin mencapai 97 persen tingkat ketidakamanan. 'Tidak aman' dalam konteks ini adalah aborsi yang dilakukan oleh pihak yang tidak memiliki skill memadai atau dilakukan di tempat  yang tidak memenuhi standar minimal medis.

Sejak tahun 2003 hingga 2008, aborsi di seluruh dunia rata-rata mencapai 28 dari 1.000 perempuan usia 15 hingga 44 tahun dengan total keseluruhan 43,8 juta aborsi. Sekitar 47.000 perempuan meninggal dalam proses aborsi yang tidak aman di tahun 2008.

Sedangkan 8,5 juta perempuan lainnya mengalami komplikasi kesehatan serius akibat aborsi ini. Hampir seluruh proses yang tidak aman ini terjadi di negara-negara berkembang.

"Aborsi sebenarnya adalah proses yang sangat mudah dan aman. Semua kematian dan komplikasi ini dapat dengan mudah dihindari," kata Gilda Sedgh sebagai peneliti senior dari Guttmacher Institute dalam jurnal medis The Lancet yang dirilis, Kamis (19/1).

Sedgh dan beberapa rekan peneliti menyimpulkan jika aborsi yang tidak aman dilakukan meningkat dari 44 persen di tahun 1995 ke 49 persen di tahun 2008. Sumber penelitian yang digunakan berasal dari statistik resmi Pemerintah, catatan Rumah Sakit, dan survei nasional. Untuk melengkapi data ini dengan aborsi yang tidak pernah secara resmi dilaporkan, Sedgh dan rekan-rekan juga mengambil data dari penelitian lain, pendapat para ahli, dan survei pada perempuan.

Penelitian ini juga berhasil menyimpulkan jika tingkat aborsi rata-rata terendah terjadi di Eropa dengan 12 aborsi per 1.000 kehamilan. Sumbangan angka tertinggi berasal dari Eropa Timur dengan 43 aborsi di tiap 1.000 kehamilan. Sedangkan rata-rata di Amerika Utara adalah 19 aborsi per 1.000. (Sumber: The Independent)

Lupus, 'Serigala Pemangsa' dari Dalam Tubuh


Oleh Zika Zakiya  | 19-01-2012 | http://ngi.cc/nGM | kesehatan

Lupus, 'Serigala Pemangsa' dari Dalam Tubuh
Zika Zakiya
 
Ungkapan dalam bahasa Latin Homo homini lupus est seringkali digunakan dalam ilmu psikologi dan sosiologi. Istilah yang berarti 'manusia adalah serigala bagi manusia lainnya' ini menganalogikan manusia bisa membahayakan satu sama lain.

Tapi bagaimana bila serigala (Lupus) itu berada di dalam dan dan memakan diri Anda sendiri? Inilah yang disebut dengan penyakit Systemic Lupus Erythematosus atau sering disebut dengan Lupus.

Penyakit autoimun kronis di mana sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh dari bahaya infeksi virus dan bakteri dari luar malah berbalik menyerang sistem dan organ tubuh sendiri. Penyakit ini juga dikenal dengan penyakit 1.000 wajah karena seringkali gejalanya menyerupai penyakit lain. Sehingga bila tidak terdeteksi secara dini dapat berakibat fatal dan menimbulkan kematian.

Odapus (orang dengan Lupus) harus mengonsumsi obat dalam jangka panjang bahkan seumur hidup. Mirisnya, 90 persen penderita Lupus adalah perempuan usia produktif. Ini ada kaitannya dengan peran hormon esterogen yang dimiliki kaum perempuan. Dalam usia produktif, hormon ini tengah dalam produksi tinggi dan membuat Lupus rentan menyerang.

Hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab timbulnya Lupus,"Namun faktor genetika jadi salah faktor yang berpengaruh," kata dr. Rachmat Gunadi sebagai pemerhati Lupus dalam Talkshow Care for Lupus Syamsi Dhuafa Foundation (SDF) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Kamis (19/1).

"Sulit mendiagnosa Lupus karena tidak seperti mendiagnosa misalnya penyakit diabetes. Mendiagnosa Lupus membuat dokter seperti menyusun puzzle," tambah pria jebolan FK UNSRI, Palembang ini.

Masalah lain dalam Lupus adalah obat yang belum berhasil ditemukan. Obat yang ada selama ini hanya untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan dengan biaya cukup mahal. Dikatakan Rachmat, salah satu pasiennya beberapa kali masuk Intensive Care Unit (ICU) hanya dalam waktu empat hari di RS. Biaya rawat ICU per harinya dan obat-obat yang harus dikonsumsi membuat ekonomi keluarga si pasien akhirnya ambruk.

Ditambahkan oleh Dian Syarief, Ketua SDF dan juga pengidap Lupus selama 12 tahun, dia sudah 20 kali naik meja operasi. "Saya lebih merasakan sakit karena efek samping dan komplikasi. Kalau soal biaya, sudah tidak terhitung lagi," kata Dian yang kini aktif jadi pembicara soal Lupus.

Lupus tidak dapat disembuhkan namun dapat dikendalikan dengan beberapa cara. Antara lain menghindari paparan sinar matarahari langsung, hindari stres, cukup tidur dan istirahat, pola makan bergizi, menghindari zat pengawet dan perwarna, olahraga ringan, dan berhati-hati dalam menggunakan suplemen terapi.

Peneliti: Uang Dapat Membeli Kebahagiaan


Oleh Arief Sujatmoko  | 19-01-2012 | http://ngi.cc/nGH | kesehatan

Peneliti: Uang Dapat Membeli Kebahagiaan
 
Perdebatan lama tentang uang dan kebahagiaan telah usai. Penelitian terbaru mengatakan bahwa uang memang bisa membeli kebahagiaan. Hal ini dikarenakan uang adalah faktor yang paling penting dalam membuat orang merasa dibutuhkan, menurut lusinan penelitian tentang uang dan kebahagiaan.

Bahkan peneliti memberikan simpulan berdasarkan analisis data dari 126 negara di seluruh dunia. Penelitian oleh Institute of Economic Affairs, Inggris, menunjukkan tingkat kebahagiaan berbanding lurus dengan kekayaan seseorang.

Kenaikan 20 persen dalam pendapat memiliki dampak yang sama pada kesejahteraan, terlepas dari jumlah awal kekayaan orang tersebut. Temuan ini bertentangan dengan keyakinan masyarakat luas bahwa dengan uang yang banyak belum tentu bisa mendapatkan kebahagiaan.

"Tidak ada negara yang cukup kaya untuk memiliki titik tertinggi dari kepuasan. Dengan jumlah data yang sangat banyak, penemuan ini sangat kuat. Jika individu lebih kaya, maka lebih bahagia-lah hidupnya," jelas para peneliti.

Hasil penelitian ini berlaku di negara manapun, bahwa hubungan antara pendapatan dan kepuasan sangat mirip. Selain itu, kesejahteraan di tempat kerja melalui regulasi cenderung kontra-produktif jika pengangguran kerja ternyata meningkat.

Ada hubungan kuat antara pengangguran dan hilangnya kesejahteraan. Secara umum, pemerintah menyebabkan lebih banyak kerugian dalam kesejahteraan. Satu penelitian menyebutkan bahwa, jika pemerintah meningkatkan dana belanja mereka hingga sepertiga, maka dapat mengurangi tingkat kebahagiaan lima hingga enam persen.

(iea.org)

Kurkumin pada Kunyit Bermanfaat untuk Terapi Kanker


Oleh Gloria Samantha  | 17-01-2012 | http://ngi.cc/nGv | kesehatan

Kurkumin pada Kunyit Bermanfaat untuk Terapi Kanker
 
Berdasarkan penelitian dari seorang peneliti dari Fakultas Farmasi UGM, Supardjan, ditemukan bahwa kunyit terbukti mengandung berbagai senyawa kurkuminoid (curcuma longa) yang berkhasiat sebagai antiinflamasi, antioksidan, hingga terapi penyembuhan kanker.
Sebelumnya sebuah penelitian di University of South Dakota pun pernah menemukan bahwa sel kanker yang tereskpos kurkumin ternyata lebih responsif terhadap kemoterapi dan radiasi.
"Penelitian ilmiah menunjukkan molekul-molekul baru kurkumin kunyit antara lain memiliki efek analgesik-antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, antikanker, serta antitumor," kata Supardjan di Yogyakarta, Selasa (17/1).
Menurut Supardjan, 100 molekul yang terdiri dari kurkumin, demetoksin kurkumin, dan bisdemetoksin kurkumin tersebut sudah diteliti lebih lanjut. "Untuk turunannya yang merah lebih ke antiinflamasi, sedang yang berwarna kuning lebih untuk melindungi hati (hepatotoksik)," ujarnya lagi.
Sementara bagi penderita diabetes, kurkumin juga baik karena mampu mencegah terjadinya pembekuan atau penggumpalan darah. Namun, sampai saat ini kurkumin baru dikembangkan sebatas obat-obatan herbal, belum dijadikan obat kimia. Ini karena membutuhkan uji klinis dengan waktu lebih lama dan membutuhkan biaya besar untuk menjadikannya obat kimia.
Tanaman kunyit atau kunir merupakan tanaman yang banyak terdapat di Indonesia. Tanaman ini telah lama digunakan oleh masyarakat baik sebagai rempah-rempah maupun obat tradisional.
Umbi (rhizoma) kunyit dapat mendinginkan badan, membersihkan, mempengaruhi bagian perut khususnya lambung, merangsang, melepaskan lebihan gas di usus, menghentikan pendarahan, dan efektif mengatasi gangguan kerja pada ginjal.
Kunyit dipercaya pula bisa menurunkan kadar gula darah serta memperlambat progres penyakit autoimun seperti multiple sclerosis.

La Nina Diperkirakan Membawa Wabah Flu



Oleh Arief Sujatmoko  | 17-01-2012 | http://ngi.cc/nGq | kesehatan

La Nina Diperkirakan Membawa Wabah Flu
 
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa peristiwa alam La Nina dapat meningkatkan pandemi flu. Ilmuwan dari Amerika Serikat menemukan bahwa empat wabah merambah sejak La Nina yang membawa air dingin ke permukaan Pasifik Timur terjadi.

Proceedings National Academy of Sciences (PNAS) menyebutkan bahwa jalur penyebaran flu burung berpindah saat terjadi La Nina. Peristiwa La Nina dan El Nino membentuk El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang mempengaruhi curah hujan.

"ENSO mempengaruhi cuaca dan curah hujan, serta kelembaban di seluruh dunia," kata Jeffrey Shaman dari Columbia University, New York, Amerika Serikat. "Akan tetapi, tidak ada patennya, efeknya sangat bervariasi," tambahnya.

Fakta menunjukkan, selama empat wabah flu yang terjadi, seperti flu Spanyol (1918), flu Asia (1957), flu Hong Kong (1958), dan flu babi (2009), semua dimulai dengan peristiwa La Nina. Hubungan antara pandemi flu dan peristiwa La Nina masih belum jelas, namun pola penerbangan dan migrasi para burung berbeda saat El Nino dan La Nina terjadi.

"Dugaan terbaik kami saat ini adalah dengan menyangkutpautkan migrasi burung dengan peristiwa La nina, namun tidak memberi hipotesis secara berlebihan dan membiarkan penelitian melalui tes genetika untuk memimpin," papar Shaman. Kenyataan bahwa periode La Nina yang tidak diikuti wabah flu memperlihatkan adanya faktor-faktor lain yang terlibat.

Hubungan antara migrasi dan peritiwa La Nina masih jauh dari cukup untuk membuktikan hipotesis ini. Shaman percaya, dengan memantau pergerakan wabah flu, teori ini kelak akan terbukti kebenarannya.

(BBC)

Perbedaan Dampak Menghisap Marijuana dan Rokok


Oleh Zika Zakiya  | 16-01-2012 | http://ngi.cc/nGl | kesehatan

Perbedaan Dampak Menghisap Marijuana dan Rokok
 
Perdebatan mengenai dampak merokok dan menghisap marijuana (cannabis) masih belum terselesaikan hingga sekarang. Masih banyak pihak yang melarang konsumsi marijuana, tapi ada juga yang meminta tanaman dalam filum Magnoliophyta ini dilegalkan. Sebelum Anda memutuskan ingin memihak yang mana, ada baiknya Anda perhatikan dampak perbedaan konsumsi keduanya.

Dalam penelitian terbaru oleh University of Alabama di Birmingham, Amerika Serikat, ada perbedaan besar dampak konsumsi rokok dan marijuana pada paru-paru. Rokok berdampak negatif pada paru-paru, namun penggunaan marijuana yang hanya sesekali saja ternyata bisa meningkatkan laju aliran udara dan meningkatkan kapasitas paru-paru.

Rokok juga bisa meningkatkan risiko penyakit dan kanker paru-paru, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi. Di lain pihak, marijuana bisa melambungkan risiko serangan jantung karena meningkatkan tekanan darah dan detak jantung. Marijuana juga mengandung 50-70 persen lebih banyak zat carcinogens dibanding rokok biasa. Zat inilah yang menyebabkan terjadinya kanker.

Selain efek kesehatan, terdapat pula dampak psikologis dari rokok dan marijuana. Marijuana membuat konsumennya merasakan euforia selama tiga jam, menyebabkan paranoia, panik, dan cemas. Sedangkan rokok 'hanya' menjadi pelepas stres semata. Kesamaan dampak psikologis di antara keduanya hanyalah bisa menyebabkan ketergantungan atau bahkan ketagihan.

Jika dipaparkan secara basis per batang, marijuana lebih membahayakan karena punya dampak psikologis yang lebih hebat. Tapi jika dirangkum dalam konteks kesehatan, keduanya sama sekali tidak baik untuk tubuh manusia yang memang tidak dirancang untuk menghisap asap. (Health Line, International Business Times)

Penelitian Dasar Berjarak dari Praktik Klinis


Oleh Gloria Samantha  | 12-01-2012 | http://ngi.cc/nG6 | kesehatan

Penelitian Dasar Berjarak dari Praktik Klinis
 
Lagi-lagi, riset ilmu kedokteran aplikatif mencuat sebagai wacana. Kali ini oleh peneliti senior Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof. dr. David Handojo Muljono. Adanya kesenjangan dalam hal penelitian serta praktik di bidang klinis inilah yang sangat perlu dijembatani.
David, dalam orasi ilmiah di auditorium Lembaga Eijkman, Jakarta (11/1), mengemukakan bahwa ilmuwan harus mencurahkan perhatian, waktu, dan kapasitasnya pada riset ilmu yang mendasar sekali, sehingga kehilangan kontak dengan pasien serta para klinisi.
Sementara di sisi lain, kompleksitas riset ilmu dasar tersebut pun menyulitkan klinisi untuk memahami dan menerapkannya sebagai pedoman penanganan berbagai masalah kesehatan.
"Revolusi di bidang biologi molekuler berkembang dengan cepat, memicu riset ilmu dasar yang dituntut sampai ke tingkat molekul dan interaksi. Namun ini berdampak menjauhkan temuan riset (kedokteran) dari pengobatan penyakit," katanya.
Padahal, masih menurut David, riset ilmuwan Indonesia paling diharapkan berkontribusi terhadap pengetahuan ataupun pemecahan problem medis. Kondisi sekarang, para klinisi atau dokter justru mencari dan menggunakan hasil riset medis dari luar untuk itu. Ia kembali menyerukan untuk membangun kapasitas riset kedokteran yang terintegrasi, mempertemukan dua bidang ini.
"Kontribusi riset didalam membangun kesehatan manusia berasal dari 2 bidang. Yakni ilmu dasar yang menciptakan pengetahuan sebagai dasar pengembangan teknologi diagnostik, pencegahan, dan pengobatan penyakit. Kedua adalah ilmu kedoketeran klinik yang mengevaluasi dan memanfaatkan pengetahuan dari poin satu," ujar David.

Sahabat Buat Badan Sehat


Oleh Zika Zakiya  | 05-01-2012 | http://ngi.cc/nFC | kesehatan

Sahabat Buat Badan Sehat
Ophie/Fotokita.net
 
Salah satu cara tetap sehat dan berumur panjang ternyata tidak sesulit dugaan. Penelitian terbaru menyebut jika Anda cukup memiliki hubungan sosial yang kuat, maka kesehatan akan terjaga.

Hubungan sosial di sini termasuk hubungan persahabatan, keluarga, atau teman sekantor. Mengapa demikian? Dalam penelitian yang dilansir Health.com, hubungan sosial yang kuat membuat Anda jarang sakit. Mereka yang memiliki hubungan sosial beragam, menurut penelitian itu, akan lebih jarang terpapar flu dibanding mereka yang terisolasi secara sosial.

Selain itu, perasaan dipedulikan banyak orang membuat Anda tidur dengan lelap. Sebaliknya, mereka yang merasa kesepian akan kesulitan tidur. Bahkan menurut studi dari University of Chicago menyatakan jika semakin Anda kesepian, semakin Anda merasa limbung.

Efek lain persahabatan adalah membuat Anda tetap 'tajam'. Dalam hal ini, peluang penurunan kemampuan kognitif Anda akan berkurang.

Dan yang paling penting adalah persahabatan membuat Anda panjang umur. Sebuah analisa di tahun 2010 menyebut jika mereka yang memiliki hubungan sosial kuat akan hidup 50 persen lebih lama dibanding mereka yang bertipe antisosial. Jadi mulai sekarang, kuatkanlah hubungan sosial Anda, mulai dari keluarga dan kerabat terdekat.

Peneliti: Gula Sebaiknya Diregulasikan Layaknya Racun


Oleh Ni Ketut Susrini  | 03-02-2012 | http://ngi.cc/nI6 | kesehatan

Peneliti: Gula Sebaiknya Diregulasikan Layaknya Racun
 
Gula dan zat pemanis lainnya dinilai beracun bagi tubuh manusia, sehingga harus diregulasikan secara ketat seperti halnya alkohol oleh pemerintah di seluruh dunia.

Hal tersebut mengemuka di jurnal Nature oleh para peneliti di University of California, San Francisco. Para peneliti mengusulkan regulasi seperti pengenaan pajak pada semua makanan dan minuman yang diberi gula tambahan, Melarang penjualannya di dalam atau di dekat lingkungan sekolah dan memberlakukan batasan umur untuk pembeliannya.

Para peneliti menyebut sejumlah hasil studi dan statistik yang menguatkan usulan mereka tentang betapa berbahayanya gula tambahan, dan dianggap merusak masyarakat seperti halnya alkohol dan tembaga. Secara spesifik disebutkan bahwa gula tambahan yang dimaksud mencakup sukrosa, campuran glukosa, dan fruktosa yang terdapat dalam sirup jagung tinggi fruktosa dan dalam gula rumah tangga yang terbuat dari tebu dan beet.

Satu sendok makan gula dianggap dapat meningkatkan tekanan darah, kolesterol, dan resiko kerusakan lever, jantung, menyebabkan obesitas dan diabetes.

Latar belakang usulan para peneliti ini cukup masuk akal mengingat di Amerika Serikat, lebih dari dua per tiga penduduknya mengidap berat badan berlebih dan setengahnya dinyatakan obesitas. Sekitar 80 persen dari penyandang obesitas berpotensi menderita diabetes atau kerusakan metabolisme dan mengurangi angka harapan hidup. 

Kasusnya pun cenderung sama di seluruh dunia. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa angka pengidap obesitas cenderung melampaui angka kurang gizi. Obesitas dinilai sebagai masalah umum di banyak negara.

PBB juga menyebutkan bahwa penyakit kronis yang berhubungan dengan pola makan seperti jantung, diabetes dan beberapa jenis kanker -- untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia -- lebih mematikan dibanding penyakit-penyakit infeksi.

Banyak peneliti yang menganggap gula sebagai racun jika dikonsumsi berlebih. Glukosa yang berasal dari karbohidrat kompleks seperti gandum utuh, lebih aman dicerna sel di seluruh tubuh, akan tetapi elemen fruktosa dari gula dimetabolisme terutamanya di lever.

Dari sinilah masalah bermula, membebani lever, memicu penyakit liver gemuk, dan akhirnya menyebabkan resistensi insulin, penyebab utama obesitas, dan diabetes. (Sumber: LiveScience.com)

Dikembangkan Insulin Analog Bagi 366 Juta Penyandang Diabetes

Oleh Gloria Samantha  | 31-01-2012 | http://ngi.cc/nHM | kesehatan

Dikembangkan Insulin Analog Bagi 366 Juta Penyandang Diabetes
 
Dua buah firma farmasi besar, Actavis dan Bioton, dalam konferensi pers di Warsawa, Selasa (31/1), mengumumkan mereka telah bermitra membentuk perusahaan gabungan untuk pengembangan serta registrasi insulin, termasuk insulin analog.
Produk insulin Bioton telah hadir di pasar selama lebih dari 10 tahun dengan profil keamanan yang baik. Dalam kerangka usaha patungan ini, Bioton akan mengembangkan produk insulin.
Sedangkan Actavis yang mendapatkan lisensi eksklusif untuk memasarkan produk-produk tersebut di bawah merk Actavis di seluruh kawasan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Serta di Albania, Bosnia Herzegovina, Kroasia, Islandia, Jepang, Kosovo, Lichtenstein, Makedonia, Montenegro, Norwegia, Serbia dan Swiss. Di Polandia, kedua perusahaan akan menawarkan produk insulin dengan merek masing-masing.
Bioton Group juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan Actavis untuk penjualan insulin di 24 wilayah tambahan, di antaranya Turki dan Australia. Penjualan insulin manusia rekombinan Bioton oleh Actavis ke beberapa wilayah tambahan itu diharapkan bisa dimulai pada 2012 dan 2013.
  
Kebutuhan Insulin

CEO Actavis Claudio Albrecht yakin bahwa kerjasama dengan Bioton merupakan konsep yang lebih mendasar dan strategis di dalam pengobatan diabetes. "Berkat kesepakatan kerja sama dengan Bioton, kami akan menjadi produsen terkemuka untuk insulin, antara lain insulin analog," tutur Albrecht. Sementara Ketua Dewan Pengawas Bioton Ryszard Krauze berujar, "Kami akan bersama-sama meluncurkan insulin modern, yakni insulin analog."
Data baru International Diabetes Federation menunjukkan, lebih dari 366 juta orang di seluruh dunia hidup dengan diabetes. Diabetes pun secara cepat menjadi epidemi global, dan jumlah pasien penyandang diabetes diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 550 juta orang pada tahun 2030.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa pasar insulin global akan tumbuh dari tingkat awal sekitar USD14 miliar hingga USD54 miliar. Rata-rata, pasien diabetes tipe-2 membutuhkan hampir 30 obat-obatan yang berbeda selama masa penyakit tersebut.

Click here to find out more! American Crocodile Crocodylus acutus

Photo: American crocodile emerging from water
Critically endangered, the prehistoric-looking American crocodile struggles to survive in pockets of shrinking habitat.
Photograph by Gianfranco Lanzetti

Map

Map: American crocodile range American Crocodile Range

Fast Facts

Type:
Reptile
Diet:
Carnivore
Average life span in the wild:
Up to 70 years
Size:
Up to 15 ft (4.6 m)
Weight:
Up to 2,000 lbs (907 kg)
Group name:
Bask (on land) or float (in water)
Protection status:
Endangered
Did you know?
One of the largest known populations of American crocodiles is in the Dominican Republic's Lago Enriquillo, a landlocked, hypersaline lake located about 131 ft (40 m) below sea level.
Size relative to a 6-ft (2-m) man:
Illustration: American crocodile compared with adult man
The American crocodile is considered an endangered species in nearly all parts of its North, Central, and South American range. Survey data, except in the United States, is poor or nonexistent, but conservationists agree that illegal hunting and habitat depletion has reduced populations of this wide-ranging reptile to critical levels.
A small, remnant population lives in southern Florida, but most are found in southern Mexico, Central America, the Caribbean, and northern South America. Their habitat of choice is the fresh or brackish water of river estuaries, coastal lagoons, and mangrove swamps.
A prehistoric-looking creature, it is distinguishable from its cousin, the American alligator, by its longer, thinner snout, its lighter color, and two long teeth on the lower jaw that are visible when its mouth is closed.
This species is among the largest of the world's crocodiles, with Central and South American males reaching lengths of up to 20 feet (6.1 meters). Males in the U.S. population rarely exceed 13 feet (4 meters), however.
Their diet consists mainly of small mammals, birds, fish, crabs, insects, snails, frogs, and occasionally carrion. They have been known to attack people, but are far more likely to flee at the sight of humans.
Most countries in the American crocodile's range have passed protection laws, but unfortunately, few governments provide adequate enforcement.

African Lion Panthera leo

Photo: Close-up of an African lion
Fiercely protective of his pride, or family unit, male lions patrol a vast territory normally covering about 100 square miles (260 square kilometers).
Photograph by Chris Johns

Map

Map: African lion range African Lion Range

Audio

Fast Facts

Type:
Mammal
Diet:
Carnivore
Size:
Head and body, 4.5 to 6.5 ft (1.4 to 2 m); Tail, 26.25 to 39.5 in (67 to 100 cm)
Weight:
265 to 420 lbs (120 to 191 kg)
Group name:
Pride
Protection status:
Vulnerable
Size relative to a 6-ft (2-m) man:
Illustration: African lion compared with adult man
Lions are the only cats that live in groups, which are called prides. Prides are family units that may include up to three males, a dozen or so females, and their young. All of a pride's lionesses are related, and female cubs typically stay with the group as they age. Young males eventually leave and establish their own prides by taking over a group headed by another male.
Only male lions boast manes, the impressive fringe of long hair that encircles their heads. Males defend the pride's territory, which may include some 100 square miles (259 square kilometers) of grasslands, scrub, or open woodlands. These intimidating animals mark the area with urine, roar menacingly to warn intruders, and chase off animals that encroach on their turf.
Female lions are the pride's primary hunters. They often work together to prey upon antelopes, zebras, wildebeest, and other large animals of the open grasslands. Many of these animals are faster than lions, so teamwork pays off.
After the hunt, the group effort often degenerates to squabbling over the sharing of the kill, with cubs at the bottom of the pecking order. Young lions do not help to hunt until they are about a year old. Lions will hunt alone if the opportunity presents itself, and they also steal kills from hyenas or wild dogs.
Lions have been celebrated throughout history for their courage and strength. They once roamed most of Africa and parts of Asia and Europe. Today they are found only in parts of sub-Saharan Africa, except for one very small population of Asian lions that survives in India's Gir Forest.

Fosil Serupa Sponge, Diprediksi Hewan Pertama di Dunia


Oleh Abiyu Pradipa  | 07-02-2012 | http://ngi.cc/nIr | alam dan lingkungan

Fosil Serupa Sponge, Diprediksi Hewan Pertama di Dunia
 
Ilmuwan yang melakukan penggalian di sebuah taman nasional di Namibia telah menemukan fosil serupa sponge yang diperkirakan merupakan hewan pertama. Penemuan ini berpotensi akan menggeser kemunculan hewan di Bumi, beberapa juta tahun lebih cepat.

Sebut peneliti dalam laporan yang dipublikasikan di South African Journal of Science, fosil kecil berbentuk vas tersebut ditemukan di Etosha National Park, Namibia, dan beberapa situs lain di negeri itu, tepatnya dalam bebatuan yang berusia antara 760 sampai 550 juta tahun. Artinya, hewan, yang diperkirakan baru muncul di Bumi sekitar 600 juta sampai 650 juta tahun lalu, tampaknya malah sudah muncul 100 sampai 150 juta tahun sebelum itu.

Menurut Tony Prave, geolog dari University of St Andrews, Skotlandia, yang melakukan penelitian, temuan ini juga berarti bahwa gumpalan berongga, yang berukuran sebesar debu dan memiliki lubang-lubang yang memungkinkan cairan melintas keluar masuk tubuhnya itu merupakan nenek moyang kita.

“Jika kita melihat silsilah keluarga dan menempatkan ini di mana kita memiliki apa yang disebut sebagai kelompok induk, cikal bakal dari seluruh hewan, artinya hewan serupa sponge ini bisa jadi merupakan nenek moyang kita,” ucap Prave.

Prave menyebutkan bawah bukti-bukti fosil yang menyatakan bahwa hewan sudah muncul setidaknya sejak 760 juta tahun lalu cocok dengan hipotesis yang dibuat oleh para pakar genetik yang menghitung usia dari spesies tertentu dengan melihat perbedaan DNA mereka dengan spesies lain. (Sumber: Agence France-Presse)

Ilmuwan Rusia Capai Danau Prasejarah di Bawah Es


Oleh Ni Ketut Susrini  | 07-02-2012 | http://ngi.cc/nIs | alam dan lingkungan

Ilmuwan Rusia Capai Danau Prasejarah di Bawah Es
 
Setelah 20 tahun pengeboran, mata bor milik tim ilmuwan Rusia berhasil masuk dan mencapai danau prasejarah Vostok. Danau yang belum pernah tersentuh ini bersarang di bawah lapisan es Antartika, dan diduga sudah ada sejak 14 juta tahun yang lalu. 

Vostok adalah danau terbesar dari lebih 200 danau yang ada di kawasan sub-glacial yang tersembunyi di kedalaman empat kilometer di dalam es. Beberapa dari danau-danau tersebut terbentuk saat benua Antartika jauh lebih hangat dan masih terhubung dengan Australia.

Danau tersebut kaya oksigen, sekitar 50 kali lebih tinggi dibanding danau segar kebanyakan. Hal tersebut diduga karena tingginya bobot dan tekanan dari daratan es yang menutupinya. 

Makhluk hidup yang mampu bertahan dalam habitat seperti Vostok haruslah bersifat extremophile -- mampu bertahan dalam lingkungan yang sangat ekstrim seperti tekanan tinggi, suhu dingin yang konstan, rendah nutrisi, konsentrasi oksigen yang tinggi dan ketiadaan cahaya matahari.

Kondisi Vostok diperkirakan serupa dengan kondisi bulan milik planet Jupiter, Europa, dan bulan Saturnus, Enceladus. 

Tim peneliti kini punya sisa waktu yang tak banyak. Mereka harus meninggalkan Antartika sebelum berakhirnya musim panas di benua tersebut. Saat itu temperatur akan turun hingga -80 derajat, sanggup membekukan apa saja.

Para peneliti berencana akan menjelajahi Vostok lebih jauh, dengan menggunakan robot perenang. Musim panas Antartika tahun 2012 sampai 2013, mereka akan menggiring robot masuk ke danau untuk mengumpulkan contoh garam dan endapan di dasar danau. (Sumber: Wired.com)

Pesut di Kalimantan Barat Berhasil Diidentifikasi


Oleh Zika Zakiya  | 07-02-2012 | http://ngi.cc/nIw | alam dan lingkungan

Pesut di Kalimantan Barat Berhasil Diidentifikasi
 
Untuk pertama kalinya, keberadaan populasi pesut atau lumba-lumba air payau Orcaella brevirostris di perairan Kubu Raya dan Kayong Utara, Kalimantan Barat, berhasil diidentifikasi.

Selain menemukan pesut ini, ditemukan pula satu kelompok lumba-lumba putih atau lumba-lumba punggung bungkuk Sousa chinensis di perairan tersebut. Ini mengindikasikan keragaman hayati ekosistem air tawar/payau yang tinggi di perairan sebelah barat Pulau Kalimantan itu.

Selama ini habitat Orcaella brevirostris atau biasa dalam bahasa Inggris disebut Irrawaddy dolphin berada di perairan Kubu Raya dan Kayong Utara. Namun, kehidupan mereka terganggu setelah terjadi perubahan hutan mangrove menjadi bahan baku industri arang, degradasi habitat hutan sekitar perairan, dan aktivitas lalu lintas air yang tinggi. Semua perubahan itu menimbulkan stress bagi satwa tersebut, serta tercemarnya air sungai.

"Keberadaan pesut di kawasan perairan tersebut belum pernah diketahui sebelumnya, sehingga studi awal ini merupakan langkah menggembirakan," kata Albertus Tjiu, ahli konservasi satwa dari WWF-Indonesia yang berhasil mendokumentasikan pesut ini, bekerjasama dengan Badan Pengembangan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak.

"Pelaku usaha yang beroperasi di sekitar perairan itu harus menerapkan praktek pengelolaan usaha yang ramah lingkungan, " tambah Albert dalam siaran pers, Selasa (7/2).

Ada dua spesies pesut di dunia yaitu Orcaella brevirostris dan Orcaella heinsohni (Snubfin dolphin). Untuk perairan-perairan di Indonesia umumnya dihuni oleh populasi Orcaella brevirostris.

Diperkirakan populasi tertinggi pesut terdapat di perairan hutan bakau Sundabarn, Bangladesh, dan India dengan populasi sekitar 6000 ekor. Adapun populasi lainnya terdapat di Sungai Mekong Kambodia yaitu sekitar 70 ekor. Kemudian di Sungai Ayeyawardi di Myanmar, dan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Ketiga lokasi ini dikategorikan memiliki populasi paling kritis (critically endangered), sedangkan lainnya dikategorikan sebagai rentan (vulnerable). 
Sejak 2009 hingga saat ini WWF-Indonesia, BPSPL, dan mitra lainnya telah melakukan kajian mengenai populasi dan habitat pesut di Kalimantan. Yaitu di Sungai Sesayap Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur pada 2009-2010, dan Kubu Raya dan Kayong Utara, Kalimantan Barat, pada bulan Oktober 2011.

"BPSPL Pontianak sangat mendukung dilakukannya kajian lebih lanjut mengenai spesies pesut ini dan siap bekerjasama dengan berbagai pihak untuk terlaksananya monitoring dan program konservasi mamalia unik ini," ujar Kris Handoko Kepala Seksi Konservasi dan Pemanfaatan - BPSPL Pontianak.

Tim Katastropik Purba: Baca Pola Bencana Indonesia


Oleh Zika Zakiya  | 07-02-2012 | http://ngi.cc/nIx | alam dan lingkungan

Tim Katastropik Purba: Baca Pola Bencana Indonesia
Yudhi Halim/Fotokita.net
 
Sebagai negara yang terletak di atas tiga lempeng besar dunia dan sembilan lempeng kecil lainnya, Indonesia berisiko mengalami berbagai jenis bencana. Mulai dari tanah longsor, banjir, gempa, hingga Tsunami. Kesemua bencana ini lebih sering terjadi di satu dekade terakhir. Di mana bencana dengan dampak terbesar adalah Tsunami yang melanda Aceh di tahun 2004.

Namun, masifnya bencana yang melanda Indonesia tak membuat sistem pendokumentasian bencana terorganisir dengan baik. Ini menyebabkan bencana-bencana yang pernah terjadi ribuan tahun lalu tak terekam jejaknya. Padahal hasil dokumentasi tersebut bisa dijadikan referensi pembelajaran untuk mengatasi bencana berikutnya.

Terbentuklah Tim Katastropik Purba (KP), yang berisi ahli geologi juga beberapa keilmuan lain. Tim ini bertugas melakukan penelitian secara dalam terhadap bencana-bencana besar pada masa lalu terutama pada masa purba yang berpotensi mengulang.

"Yang dipelajari oleh tim KP adalah meneliti peradaban dan bencana alam besar purba di Nusantara. Menyusun kronologi peradaban dan bencana serta kaitannya," kata Danny Hilman sebagai salah satu anggota KP dalam acara diskusi 'Menguak Tabir Peradaban dan Bencana Katastropik Purba di Nusantara untuk Memperkuat Karakter dan Ketahanan Nasional' di Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa (7/2).

Ditambahkan oleh Danny, jika pola bencana ini juga bisa jadi alasan kemunculan dan hilangnya suatu peradaban di masa lampau yang terkait dengan bencana saat ini. Serta bisa digunakan untuk meneliti ulang kronologi sejarah dan atau situs bangunan dengan motode geologi.

"Temuan-temuan KP akan disampaikan ke beberapa pihak. Karena hampir semua riset gempa di Indonesia lebih bersifat pribadi dan tidak terorganisir," ujar Staf Ahli Presiden Bidang Bencana Andi Arief.

Tak Terdokumentasi, Masyarakat 'Buta' Bencana

Salah satu contoh buruknya pendokumentasian bisa terlihat dalam gempa pada 28 Agustus dan 3-4 September 2011 di Kabupaten Bandung Barat. Menurut peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gempa ini terjadi karena pergerakan Sesar Lembang. (Baca: Petaka Mengintai di Utara Bandung)

Warga yang sudah menghuni lokasi itu selama enam generasi mengaku kaget, karena inilah kali pertama merasakan gempa di bawah kaki mereka. Padahal, kewaspadaan ini bisa ditumbuhkan oleh para pendahulu mereka. Sebab, dari hasil penelitian Eko Yulianto dalam National Geographic Indonesia edisi Februari 2012, disebutkan jika wilayah ini pernah dilanda bencana gempa.

"Gempa dengan kekuatan besar pernah terjadi sekitar 500 tahun lalu dengan besaran 6,6 skala Richter. Sebelumnya, pada 2000 tahun yang lalu terjadi gempa yang pertama, dengan kekuatan sekitar 6,8 skala Richter," ujar Eko.

Wilayah Sesar Lembang membentang dari timur ke barat—dari kaki Gunung Manglayang sampai ke tepian kawasan karst Padalarang. Dengan panjang sekitar 22-25 kilometer, wilayah ini dihuni oleh ribuan bangunan permukiman, restoran, hotel, asrama dan sekolah militer, juga tempat penelitian astronomi, berdiri di dasar patahan di sisi utara dan di puncak patahan di sisi selatan.

Click here to find out more! African Elephant Loxodonta africana

Photo: African elephant
African elephants are the largest of Earth's land mammals. Their enormous ears help them to keep cool in the hot African climate.
Photograph by Beverly Joubert
Map: Elephant range

Map

African Elephant Range

Audio

Fast Facts

Type:
Mammal
Diet:
Herbivore
Average life span in the wild:
Up to 70 years
Size:
Height at the shoulder, 8.2 to 13 ft (2.5 to 4 m)
Weight:
5,000 to 14,000 lbs (2,268 to 6,350 kg)
Group name:
Herd
Protection status:
Threatened
Size relative to a 6-ft (2-m) man:
Illustration: African elephant compared with adult man
African elephants are the largest land animals on Earth. They are slightly larger than their Asian cousins and can be identified by their larger ears that look somewhat like the continent of Africa. (Asian elephants have smaller, rounded ears.)
Elephant ears radiate heat to help keep these large animals cool, but sometimes the African heat is too much. Elephants are fond of water and enjoy showering by sucking water into their trunks and spraying it all over themselves. Afterwards, they often spray their skin with a protective coating of dust.
An elephant's trunk is actually a long nose used for smelling, breathing, trumpeting, drinking, and also for grabbing things—especially a potential meal. The trunk alone contains about 100,000 different muscles. African elephants have two fingerlike features on the end of their trunk that they can use to grab small items. (Asian elephants have one.)
Both male and female African elephants have tusks they use to dig for food and water and strip bark from trees. Males use the tusks to battle one another, but the ivory has also attracted violence of a far more dangerous sort.
Because ivory is so valuable to some humans, many elephants have been killed for their tusks. This trade is illegal today, but it has not been completely eliminated, and some African elephant populations remain endangered.
Elephants eat roots, grasses, fruit, and bark, and they eat a lot of these things. An adult elephant can consume up to 300 pounds (136 kilograms) of food in a single day.
These hungry animals do not sleep much, and they roam over great distances while foraging for the large quantities of food that they require to sustain their massive bodies.
Female elephants (cows) live in family herds with their young, but adult males (bulls) tend to roam on their own.
Having a baby elephant is a serious commitment. Elephants have a longer pregnancy than any other mammal—almost 22 months. Cows usually give birth to one calf every two to four years. At birth, elephants already weigh some 200 pounds (91 kilograms) and stand about 3 feet (1 meter) tall.
African elephants, unlike their Asian relatives, are not easily domesticated. They range throughout sub-Saharan Africa and the rain forests of central and West Africa. The continent’s northernmost elephants are found in Mali’s Sahel desert. The small, nomadic herd of Mali elephants migrates in a circular route through the desert in search of water.

Stupa Kuno yang Diduga Peninggalan Kukar Ditemukan di Jawa Timur

Oleh Gloria Samantha  | 10-01-2012 | http://ngi.cc/nFS | arkeologi

Stupa Kuno yang Diduga Peninggalan Kukar Ditemukan di Jawa Timur
 
Ditemukan stupa kuno yang diyakini merupakan peninggalan purbakala yang berasal dari zaman Kutai Kartanegara (Kukar) pada abad ke-14. Stupa dengan tinggi sekitar 0,5 meter itu ditemukan di tanah pekarangan rumah seorang warga Desa Tembarak, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Stupa ini berbentuk seperti kubah masjid dengan bahan tanah liat merah. Saat ditemukan kondisi stupa juga sudah kelihatan cacat, pecah, dan retak di beberapa sisi.
Menurut pernyataan salah satu perangkat desa, memang desanya dahulu sempat dihuni masyarakat di bawah pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegera.
Di dekat lokasi penemuan, berjarak sekitar 500 meter, terdapat bekas situs candi pemujaan pula. Namun,situs itu sekarang telah dipindahkan oleh dinas kepurbakalaan terkait.
Meski demikian, benda temuan baru ini belum dapat terkonfirmasi sebagai benda purbakala. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk, Lies Nurhayati, yang menindaklanjuti laporan warga mengatakan, telah melakukan koordinasi mengenai temuan dengan pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto untuk memastikannya lewat penelitian lebih dalam.

Helm Bangsa Roma Ini Sempat Dikira Ember Berkarat


Oleh Zika Zakiya  | 11-01-2012 | http://ngi.cc/nG2 | arkeologi

Helm Bangsa Roma Ini Sempat Dikira Ember Berkarat
 
Sebuah helm yang diperkirakan berasal dari invasi pasukan Roma ke Inggris sekitar 2.000 tahun lalu ditunjukkan kepada publik, Selasa (10/1). Helm yang terbuat dari besi ini diperkirakan tadinya dihiasi dengan ukiran perak dan daun emas.

Selain itu lingkaran helm ini dipenuhi dengan simbol-simbol kemenangan militer. Di bagian ujung kepalanya menampilkan ukiran timbul perempuan yang diapit oleh singa dan beberapa binatang lainnya. Helm yang disebut dengan The Hallaton Helmet ini selanjutnya akan ditunjukkan secara permanen kepada publik di Harborough Museum, Market Harborough, Leicestershire, Inggris, mulai 28 Januari mendatang.

Helm ini sebenarnya sudah ditemukan sejak 10 tahun lalu dalam penggalian di Hallaton di Leicestershire. Namun, karena saat itu para ahli yang terlibat lebih sering menemukan koin emas dan perak, helm itu dianggap sebagai 'ember berkarat.' Yang mereka tidak sadari, helm itu adalah penemuan penting karena mengindikasikan hubungan invasi bangsa Roma dengan warga asli Inggris.

"Helm ini bentuknya tidak terlalu rusak, tampaknya helm ini diambil setelah peperangan," ujar Peter Liddle yang masuk dalam komunitas arkeologi untuk Leicestershire County Council.

"Ada dua kemungkinan, helm ini adalah milik bangsa Inggris yang bertempur bersama militer Roma dan kembali dengan selamat. Atau ini adalah hadiah diplomatik dari bangsa Roma untuk penguasa lokal sebagai pengikat persekutuan di antara mereka."

Kedua peluang yang disebutkan Liddle menjadi tantangan sendiri karena mematahkan teori perang antara bangsa Roma dan Inggris di tahun 43 Masehi. Saat itu tengah berlangsung invasi bangsa Roma di bawah Kaisar Claudius.

Situs tempat helm ini ditemukan juga bukan lokasi perang. Melainkan lokasi pusat keagamaan yang akhirnya menghasilkan penemukan koin-koin kuno terbesar dalam sejarah Inggris.

Saat ditemukan, helm ini harus diangkat dari dalam tanah dan diangkut ke British Museum. Di sini, para ahli mengumpulkan waktu bertahun-tahun untuk menyatukan ratusan pecahan yang ada dengan bantuan teknologi tiga dimensi (3D).  (Reuters)

Ada Makam Penyanyi Ternama di Lembah Para Raja

Oleh Zika Zakiya  | 16-01-2012 | http://ngi.cc/nGj | arkeologi
Ada Makam Penyanyi Ternama di Lembah Para Raja
 
Arkeolog dari Mesir dan Swiss berhasil menggali makam berusia 1.100 tahun yang dipercaya merupakan makan penyanyi terkenal di Lembah Para Raja, Mesir. Hal ini cukup tidak wajar mengingat Lembah Para Raja sengaja dibangun untuk makam raja-raja Mesir atau mereka yang berpengaruh di masa Mesir Kuno pada zaman dinasti ke 18 hingga ke 20.

Maka itu, inilah makam perempuan pertama yang tak memiliki hubungan keluarga apa pun dengan semua anggota kerajaan di lembah tersebut. Demikian ujar otoritas senior Kementerian Barang Antik di Luxor, Mesir, Mansour Boraiq.

Penyanyi yang ditemukan itu bernama Nehmes Bastet, yang artinya ia berada dalam lindungan Dewa Bastet. Hal ini bisa disimpulkan dari artefak yang dikumpulkan di kuil yang dipercaya menjadi tempa Nehmes tampil, Kuil Tarnak.

Menurut Boraiq, peti Nehmes masih utuh saat ditemukan. Peti itu sendiri ditemukan secara tidak sengaja. "Kami tidak mencari makam baru, hanya saja letaknya (makan Nehmes) dekat dengan makam lain yang ditemukan 1.000 tahun lalu," kata Direktur lapangan penggalian di Lembah Para Raja, Pauline-Grothe.

Berdasarkan artefak yang ditemukan di dalam, peti itu juga dikatakan dirancang bukan untuk Nehmes. Melainkan peti mati bekas pakai yang pernah digunakan 400 tahun sebelum Nehmes wafat. Peti mati yang digunakan Nehmes aslinya digunakan putri seorang pendeta dari dinasti ke-22. (Independent UK, Weekly Time).

Solo Beri Label Khusus untuk Benda Cagar Budaya

Oleh Olivia Lewi Pramesti  | 24-01-2012 | http://ngi.cc/nH2 | arkeologi
Solo Beri Label Khusus untuk Benda Cagar Budaya
 
Pemerintah Kota Solo mulai menempelkan label khusus pada bangunan atau kawasan yang ditetapkan menjdi Benda Cagar Budaya (BCB).

Penempelan label ini telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Walikota Solo Nomor 646/116/1/1997. Menurut Kepala Bidang Konservasi dan Pengawasan cagar Budaya Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Mutfi Raharjo ada 54 BCB yang ditempeli label. Sedangkan bangunana lain masih dalam tahap inventarisasi dari Tim Kajian Cagar Budaya.

Ia menjelaskan penempelan label ini menggunakan bahan tembaga berdesain artistik yang disertai dengan penerbitan sertifikat yang menyebutkan bahwa sebuah bangunan masuk dalam BCB.

Salah satu anggota Tim Kajian Cagar Budaya, Sudharmono SU menjelaskan, pelabelan sebaiknya diikuti dengan pemberian insentif pada pemilik BCB, yakni berupa keringanan atau pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan, serta bantuan teknis jika pemilik hendak melakukan renovasi. "Dengan cara demikian, upaya penyelamatan BCB akan efektif," papar Mutfi.

Ia pun menambahkan, ketika sebuah bangunan atau kawasan dikategorikan BCB, maka akan dibarengi dengan peningkatan nilai ekonomis, lantaran bangunan tersebut berkategori special bahkan langka. (KR)

Bangsa Mesir Kuno 'Beri Makan' Mumi Burung

Oleh Zika Zakiya  | 24-01-2012 | http://ngi.cc/nH8 | arkeologi
Bangsa Mesir Kuno 'Beri Makan' Mumi Burung
 
Bangsa Mesir Kuno memang dikenal dengan pengawetan mayat dengan cara dibalsem. Seluruh organ tubuh diawetkan dengan harapan akan bisa kembali terpakai di akhirat.

Hal yang sama juga mereka praktekkan dalam pengawetan burung ibis. Namun, bukan cuma tubuh si burung yang diawetkan, tapi isi perutnya juga diperhatikan. Dalam penemuan terakhir, perut mumi burung ibis ternyata juga diisi dengan makanan. Tujuannya agar si burung, yang merupakan bagian dari tumbal untuk Dewa Thoth, tidak kelaparan di akhirat nanti.

Hal ini diketahui setelah Andrew Wade dan beberapa koleganya dari University of Western Ontario, London, Kanada, menggunakan CT scan untuk melihat isi tubuh dua mumi burung ibis. Dari situ diketahui juga proses pembalseman membuat organ tubuh si burung dipindahkan.

Mengacu pada proses mumi untuk manusia, bangsa Mesir Kuno sering kali mengambil kemudian membalsem paru-paru dan organ pencernaan sebelum akhirnya ditempatkan kembali dalam tubuh. Para ahli mengira ini dilakukan agar organ-organ tersebut bisa digunkan kembali di 'kehidupan selanjutnya'.

Atas dasar ini, disimpulkan pula jika bangsa Mesir Kuno percaya jika burung ibis ini akan kembali terbang di akhirat. "Ini menunjukkan adanya penyediaan sumber makanan untuk si burung di akhirat," kata Wade dilansir dari Journal of Archaeological Science, edisi Januari 2012.

"Sekaligus mendukung pemikiran jika isi tubuh (burung) ibis dan manusia akan digunakan kembali seperti layaknya saat mereka masih hidup." (Sumber: News Scientist)

Situs Trowulan Majapahit: Dahulukan Kepentingan Kebudayaan

Oleh Zika Zakiya  | 26-01-2012 | http://ngi.cc/nHn | arkeologi
Situs Trowulan Majapahit: Dahulukan Kepentingan Kebudayaan
Situs Trowulan/Mahandis Y. Thamrin.
 
Situs Trowulan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur masih menyimpan begitu banyak misteri mengenai peradaban Kerajaan Majapahit. Para ahli arkeologi dan sejarah memperkirakan peradaban kerajaan berkembang sekitar 200 tahun, mulai berdiri sejak 1293 hingga runtuh sekitar tahun 1521 M.

Bagai mencari kota yang hilang, penelitian dan penggalian arkeologis terus dilakukan hingga saat ini. Menurut Mundardjito, dewan pakar National Geographic Indonesia, Kamboja memiliki peninggalan peradaban berupa Angkor Wat, Peru menyimpan Machu Picchu, Italia dengan reruntuhan Pompeii, dan Yunani terdapat Acropolis di Athena, sementara Indonesia hanya punya Trowulan yang sampai sekarang pun belum tergali sempurna.

“Penentuan batas kota dan tata kota pun masih menjadi misteri. Apakah mereka menentukan batas dengan menggunakan konsep astronomi seperti pelaut. Kami juga belum dapat memastikannya,” ujar Junus Satrio Atmodjo, staf ahli Menteri Parwisata dan Ekonomi Kreatif saat kami jumpai pada Senin (23/1).

Junus yang juga Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia menegaskan bahwa Kota Majapahit mengedepankan konsep mandala. Artinya, raja yang berkedudukan di sana memiliki dua makna: mewakili dunia supranatural dan melakukan pengaturan di dunia.

Di sisi lain, Junus juga menyebutkan bahwa Trowulan mendapatkan tekanan sejak tahun 1990-an. Masyarakat melakukan tindakan destruktif lantaran desakan kebutuhan hidup. Sedikitnya ada 5.000 keluarga yang menggantungkan hidup pada industri batu bata, yang bahan bakunya berasal dari galian tanah di sekitar situs Majapahit. Tindakan destruktif sebagian masyarakat berjalan terus-menerus dan semakin meluas.

Itu sebabnya, untuk menyelamatkan situs Majapahit, Junus mengatakan bahwa kepentingan kebudayaan harus menjadi konsep terdepan. “Kita harus tanggung jawab kepada masyarakat sekitar dan negara. Kita melakukan penelitian pada lokasi yang pemiliknya adalah masyarakat sekitar,” ujar Junus.

Dengan menempatkan konteks kebudayaan pada situs Majapahit, kita akan dapat melihat bagaimana proses budaya yang terjadi di kerajaan itu. Hal ini lah yang kerap terlupakan oleh para pemangku kepentingan. “Pariwisata itu hanyalah pilihan, tetapi kepentingan kebudayaan adalah kewajiban.”
   
Beberapa tahun silam, polemik mengenai pembangunan proyek Pusat Informasi Majapahit sempat mengemuka. Para ahli arkeologi menyatakan keberatan atas pembangunan proyek yang menjadi bagian dari rencana besar membangun Majapahit Park. Lantaran terkesan dipaksakan dan dilaksanakan tidak melalui prosedur yang seharusnya (Oleh: Didi Kasipi Kasim. Foto: Mahandis Y. Thamrin)

Menanti riset potensi angin



Posted by Firman Firdaus on March 18, 2011
SETELAH terjadi ledakan instalasi nuklir di Prefektur Fukushima, Jepang, beberapa waktu lalu menyusul gempa dahsyat sebelumnya, banyak pihak yang buru-buru mengaitkannya dengan pro dan kontra pembangunan PLTN Muria di Tanah Air. Yang kontra tentu saja bersandar pada pertanyaan mendasar: apa mampu kita mengelola instalasi yang rawan celaka, dengan sumber daya manusia yang minim?
Sementara yang mendukung bersikap optimistis: masalah nuklir itu adalah masalah yang harus dipecahkan, bukan dihindari. (Di Twitter, ada yang bertanya; banyak pesawat jatuh, tapi orang tetap naik pesawat, kan?)
Apalagi, kebutuhan energi kita kian membubung seiring pertumbuhan populasi. Negara-negara Eropa dan kemudian Asia seperti China, Korea, dan Jepang sudah lebih dulu bertindak dengan nuklir. Prancis bahkan begitu mengandalkan nuklir: sekitar 75% produksi energi listrik domestiknya berasal dari nuklir. Karenanya tidak heran jika kemudian pemerintah tetap bersikukuh pada rencana pembangunan PLTN.
Namun, saya belum akan membahas masalah nuklir di sini, melainkan salah satu potensi yang relatif lebih “aman” namun belum tergali: tenaga angin.
Amerika merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan instalasi pembangkit tenaga angin paling pesat (Amerika apa sih yang nggak pesat? :)) Dalam kurun 2007-2010 konsumsi minyak bumi negeri Paman Sam itu telah turun 8% disertai penurunan penggunaan dan produksi batu bara. Pada saat yang sama, sekitar 300 ladang angin dibangun, membangkitkan 21.000 megawatt energi listrik.
Macan Asia, China, juga melakukan hal yang sama: menjadi negara ranking dua (setelah AS) dalam memanen energi lewat angin, dengan kapasitas 26.000 megawatt. China juga terus melakukan ekspansi untuk menutupi kebutuhan energi listrik domestik hingga 16 kali lipat dari produksi saat ini. Dengan program Wind Base, China bakal membangun tujuh megakompleks angin, masing-masing berkapasitas 10-38 gigawatt, di enam provinsi. Saat selesai, kompleks ini akan membangkitkan lebih dari 130 gigawatt energi listrik. Ini setara dengan membangun satu pabrik batu bara per minggu, selama 2,5 tahun.
Menurut Indonesia Energy Outlook and Statistics yang diterbitkan Pengkajian Energi Universitas Indonesia (2006, seharusnya sudah ada versi terbarunya :)) dalam periode 2025, diproyeksikan kebutuhan listrik domestik mencapai 440,5 GWh, sebanyak 83%-nya masih bergantung pada batu bara dan gas alam. Sementara kontribusi dari energi terbarukan hanya 13,1 persen. Meski baru proyeksi, tentu saja ini angka yang mengkhawatirkan, ditilik dari sisi lingkungan.
Dengan kontur lanskap yang kaya, Indonesia seharusnya juga memiliki peluang untuk menikmati potongan kue energi dari angin. Sayangnya, masih minim sekali riset potensi angin sebagai sumber energi terbarukan. Di Bukit Mundi, Desa Klumpu, Nusa Penida, penelitian terowongan angin malah dinilai gagal karena pada kenyataannya kincir yang sudah telanjur dibangun hampir tidak pernah berputar.
Penelitian terakhir yang dilakukan BMG adalah 16 tahun lalu, itu pun tanpa memerinci potensi kapasitasnya (hanya penelitian kecepatan angin). Padahal, dari hasil penelitian kecepatan angin, rata-rata wilayah yang disurvei memiliki kecepatan skala sedang (3-4 meter per detik) hingga besar (lebih dari 4 m/s) pada ketinggian 24 m.
Energi angin adalah sumber energi yang ramah lingkungan, karena ditenagai oleh angin: sumber ini tidak mengotori udara kayaknya pembangkit yang mengandalkan pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara atau gas alam. Turbin angin juga tidak melemparkan emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Yang tak kalah penting, energi angin bergantung pada tenaga angin yang dapat diperbarui (dan mungkin tidak akan habis, selama kondisi iklim tidak berubah secara drastis). Dari sisi keekonomian, energi angin merupakan salah satu teknologi energi terbarukan paling murah saat ini.
Sebagai negara agraris (masih kan ya? :)), Indonesia juga “diuntungkan” dengan energi angin. Turbin angin bisa dibangun di atas lahan sawah atau ladang kebun karena tiangnya tidak banyak membutuhkan ruang, sehingga tidak mengganggu kegiatan pertanian/perkebunan. Ditambah lagi, pemilik instalasi turbin bisa menyewa lahan dari petani/pemilik lahan sehingga mendatangkan pemasukan bagi petani di pedesaan, di mana tenaga angin biasanya berada.
Akan tetapi, bukan berarti energi angin tidak memiliki kerugian. Investasi awal pembangunan turbin angin dinilai lebih besar daripada membangun generator bahan bakar fosil. Tantangan lainnya adalah, tiupan angin bersifat sporadis, dan tidak selalu ada ketika dibutuhkan. Energi angin juga tidak bisa disimpan, kecuali dilengkapi dengan aki. Lokasi energi angin biasanya terletak di pedesaan, padahal kebutuhan energi listrik lebih banyak di perkotaan sehingga ada kendala transportasi energi.
Dari sisi lingkungan, meski energi angin relatif bersih, banyak kasus baling-baling kincir angin membunuh populasi burung, dan mengeluarkan polusi suara yang mengganggu.
Namun, seperti halnya masalah pada energi nuklir (dan tentu masalah dalam hidup pada umumnya), persoalan tersebut tidak seharusnya dihindari, bukan? Mari cari pemecahannya.***

Sepeda di mana-mana

Posted by Firman Firdaus on January 12, 2011
DAPATKAH Anda merasakan bahwa belakangan ini di Indonesia—bahkan mungkin di seluruh dunia—sedang terjadi pertumbuhan jumlah pengguna sepeda? Saya dapat. Setidaknya orang-orang terdekat dalam lingkungan pekerjaan dan sekitar rumah saya begitu menggandrungi sepeda dan secara rutin melakukan perjalanan bersepeda.

Meski belum ada data resmi soal jumlah pengguna sepeda reguler di Tanah Air, fenomena yang terjadi setidaknya 2-3 tahun terakhir menunjukkan booming sepeda.
Surat kabar terbesar Indonesia, Kompas, juga memotret momentum ini dan menjadikannya tema utama ulang tahun mereka yang ke-45 tahun lalu. Kelompok Kompas-Gramedia bahkan memiliki klub bersepeda beranggotakan lebih dari seratus orang, dan cukup aktif menyelenggarakan acara bersepeda.
Data Earth Policy Institute menyebut, produksi sepeda dunia sebesar 94 juta per tahun dalam kurun 1990-2002 telah meningkat menjadi 130 juta pada 2007, melampaui produksi mobil yang sebesar 70 juta. Di beberapa negara, pertumbuhan jumlah penjualan ini dibantu oleh anjuran pemerintahnya—disertai insentif menarik—untuk menggunakan sepeda. Contohnya, pada 2009 pemerintah Italia mulai meluncurkan serangkaian program insentif untuk mendorong pembelian sepeda untuk memperbaiki kualitas udara perkotaan dan mengurangi jumlah mobil di jalan, dengan memberikan potongan 30 persen dari setiap harga sepeda.
China juga menunjukkan peningkatan volume sepeda. Pada 2007, jumlahnya mencapai 90 juta, tetapi kini menyentuh 430 juta, meski tingkat kepemilikan rata-rata masih lebih tinggi di Eropa. Di Belanda, satu orang punya lebih dari satu sepeda, dan sebanyak 27 persen dari seluruh perjalanan menggunakan sepeda. Sementara Denmark dan Jerman mendekati satu sepeda per orang, dengan persentase perjalanan sepeda 18 persen (Denmark) dan 10 persen (Jerman).
Capaian-capaian tersebut tentu saja memiliki sebab-sebab. Belanda, Denmark, dan Jerman sebelumnya telah menyiapkan infrastruktur yang bersahabat terhadap para pesepeda: parkir khusus sepeda, integrasi penuh dengan transportasi umum, edukasi lalu lintas yang komprehensif dan pelatihan bagi pesepeda. Di sisi lain, hal ini pula yang membuat negara besar lain seperti Amerika Serikat dan Inggris memiliki tingkat pengguna sepeda yang rendah: karena minimnya “grand design” dan kebijakan untuk itu, meski mereka sepertinya juga sedang menuju ke sana.
Sebagai sebuah moda transportasi personal, sepeda memang cukup ideal. Apa lagi jika dikaitkan dengan isu lingkungan dan kesehatan. Bersepeda bisa memperbaiki sistem pernapasan, menurunkan polusi udara, mereduksi obesitas, meningkatkan kebugaran fisik. Sepeda juga tidak—secara langsung—mengemisikan karbon dioksida. Saya tulis “secara langsung” karena saya yakin sebenarnya pada tingkat tertentu proses produksi satu buah sepeda pasti memiliki jejak karbon sendiri. Satu hal yang paling penting kenapa sepeda menjadi begitu populer: secara umum harganya terjangkau oleh jutaan orang yang tidak sanggup membeli mobil.
Mengingat bentuknya yang ringkas (dan kini juga menjamur sepeda lipat yang bisa dibuat lebih ringkas lagi), enam sepeda bisa termuat dalam lajur jalan yang digunakan oleh satu mobil. Belum lagi untuk parkir: satu spasi parkir untuk satu mobil bisa digunakan untuk memarkir 20 sepeda. Efisiensi sepeda dalam hal emisi karbon sebagai substituen mobil untuk perjalanan pendek adalah akar pangkat tiga dibandingkan emisi dari mobil.
Membandingkan efisiensi sepeda dengan mobil mungkin terkesan tidak “apple-to-apple“. Akan tetapi, tidak bisa tidak, jika ingin meninjaunya dari sisi upaya penekanan jumlah emisi karbon atau okupasi lahan publik, pembandingan ini mestilah dilakukan.
Dan seperti yang sudah saya singgung di atas, efisiensi sepeda bukan hanya berefek pada lingkungan, melainkan juga kesehatan. Sepeda sangat ideal untuk mengembalikan keseimbangan asupan kalori dan pengeluaran rutin seseorang untuk biaya kesehatan: mengurangi penyakit-penyakit kardiovaskuler, osteoporosis, arthritis, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Jika negara-negara Eropa (dan China) sudah menyiapkan infrastruktur yang memadai untuk menyambut ledakan sepeda—dan ledakan pertumbuhan ekonomi baru—bagaimana dengan Indonesia?
Kita masih perlu berpikir dan bekerja keras bahkan hanya untuk memperbaiki sarana umum yang paling dasar: jalur pejalan kaki. Hampir seluruh trotoar ibu kota (kecuali jalur protokol Sudirman-Thamrin) sudah diokupasi oleh pedagang dan…motor. Di sebuah jalan utama di Jakarta Barat, trotoar bahkan diratakan untuk menjadi bagian dari lahan parkir sebuah restoran besar, membuat pejalan kaki mesti berhati-hati jika melintas di situ, atau terkena risiko terserempet mobil.
Artinya, terlepas dari menjamurnya pengguna sepeda, pemangku kebijakan sepertinya tidak bisa terburu-buru memenuhi kebutuhan pesepeda sebelum kebutuhan paling hakiki dari jalan, yakni trotoar, dibenahi.
Hal lain yang juga menjadi perhatian saya adalah menjaga paradigma bahwa sepeda adalah moda pengganti kendaraan bermotor. Artinya, penggunaan sepeda idealnya bersifat substitutif, bukan sekadar adisional. Memang, tidak dapat dimungkiri, lanskap dan tata kota di Jakarta kerap memaksa orang memiliki rumah yang jauh dari tempat bekerja, sehingga amatlah berat (walau bukan tidak mungkin) jika orang yang tinggal di Bekasi, misalnya, mesti menggunakan sepeda sehari-hari ke kantor di Kebon Jeruk.
Risiko dari menganggap sepeda sebatas pada moda adisional membuat upaya pengurangan emisi karbon seperti sia-sia, karena pada kenyataannya mereka masih bergantung pada mobil atau motornya untuk perjalanan sehari-hari. Lebih buruk lagi, seperti fenomena yang kerap saya amati, jika sepeda hanya berfungsi sebagai bagian dari tren dan gaya hidup sehingga para pesepeda lebih sering disibukkan oleh gonta-ganti aksesoris dan memikirkan rencana jalan-jalan. (Foto oleh Firman Firdaus/NGI)

Selamat ulang tahun, pemanasan global!



Posted by Firman Firdaus on August 10, 2010
Tepatnya dua hari lalu, pemanasan global merayakan ulang tahunnya yang ke-35. Ini bukan sekadar sebagai pertanda bahwa kenaikan suhu global secara signifikan telah berlangsung selama 35 tahun, melainkan juga menandai usia terminologi pemanasan global itu sendiri.
Pada 8 Agustus 1975, Wally Broecker memublikasikan makalahnya “Are we on the brink of a pronounced global warming?” di jurnal Science. Itulah kali pertama, diduga, istilah pemanasan global atau global warming diperkenalkan.
Dalam jurnal tersebut, Broecker juga secara gamblang mengatakan bahwa pemanasan diakibatkan oleh karbon dioksida, dan bakal berdampak pada pertanian dan muka air laut. Prediksi yang sudah kita lihat dan rasakan sekarang: sulitnya menentukan musim tanam dan rusaknya lahan dan panen karena iklim yang tidak menentu dan perubahan pola migrasi hewan-hewan laut hanyalah beberapa contoh yang paling menempel dalam ingatan kita.
Analisis Broecker juga menjawab keraguan orang bahwa pemanasan global bukan tidak dapat diprediksi. Nyatanya, fenomena ini bisa diperkirakan bahkan ketika bukti-bukti empiris berupa rekaman temperatur global belum muncul.
Broecker adalah salah satu ilmuwan iklim besar di abad ke-20. Ada sekitar 400 makalah yang ditulisnya, dan 60 di antaranya masing-masing disebut dalam 100 makalah lain sebagai sumber. Konsentrasi Broecker adalah pada ilmu iklim purba dan geokimia laut.
Ulang tahun ini tentu saja bukan sesuatu yang patut dirayakan dengan sukacita. Sebaliknya, momentum ini menjadi pengingat bahwa Bumi yang kita diami masih berada dalam ancaman yang kita sendiri tidak dapat mengukurnya. Tanpa upaya yang serius dari semua pihak untuk mengurangi dampak pemanasan global dan perubahan iklim, prediksi Broecker rasanya tinggal menunggu waktu. (Sumber: Realclimate.com)

Peta tutupan hutan global bisa jadi petunjuk level karbon dunia

Posted by Firman Firdaus on July 21, 2010
Untuk pertama kalinya, para ilmuwan, dengan menggunakan data satelit NASA, meluncurkan peta yang menggambarkan secara detail ketinggian hutan-hutan di seluruh dunia. Data ini bisa digunakan sebagai petunjuk jumlah karbon yang disimpan (carbon stock) dalam hutan-hutan dunia, dan seberapa cepat siklus karbon di ekosistem kembali ke atmosfer.

Menurut paparan yang disampaikan Michael Lefsky dari Colorado State University dalam jurnal Geophysical Research Letters, peta baru ini memperlihatkan hutan-hutan tertinggi terkonsentrasi di Pasifik Barat Laut di Amerika Utara, dan sebagian Asia Tenggara. Sementara hutan-hutan yang rendah ditemukan di Kanada utara dan Eurasia.
Selain menunjukkan hutan-hutan berdasarkan tinggi pohonnya, ke depannya peta yang merupakan kombinasi dari satelit ICESat, Terra, dan Aqua ini bisa digunakan sebagai alat untuk memperkirakan jumlah karbon yang terikat dalam hutan-hutan di Bumi, dan mencari jawaban ke mana 2 miliar ton karbon “hilang” dari atmosfer setiap tahunnya.

Manusia melepas sekitar 7 miliar ton karbon per tahun, kebanyakan dalam bentuk karbon dioksida. Sebanyak 3 miliar ton dari jumlah itu berakhir di atmosfer, dan 2 miliar ton di lautan. Belum diketahui ke mana sisanya yang 2 miliar ton. Sementara ini diduga karbon yang hilang tersebut tersimpan sebagai biomassa.
“Yang kita butuhkan adalah peta biomassa yang ada di atas tanah, dan peta ini bisa membantu kita,” kata Richard Houghton, pakar ilmu ekosistem terestrial. (Sumber: NASA)

Lahan parkir, cermin ketimpangan pembangunan?

Posted by Firman Firdaus on May 27, 2010
Beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke Universitas Indonesia, Depok, saya menemukan perubahan yang begitu mencolok, setidaknya sejak saya lulus dari sana sembilan tahun lalu: bergantinya ruang terbuka hijau menjadi lahan parkir.
Hampir di semua fakultas, lahan yang ditumbuhi pepohonan tinggi tempat para mahasiswa biasa rehat atau sekadar melintas, dipapas, digantikan oleh beton dan konblok tempat mobil nongkrong. Saya mulai berpikir, apakah kampus ini didesain untuk para mahasiswa atau untuk mobil, karena sepertinya rasio antara taman dan tempat parkir di kampus UI Depok mulai tidak manusiawi.
Dalam perbincangan dengan Prof Gunawan Tjahyono, dosen arsitektur UI yang juga pecinta lingkungan, dia mengatakan semestinya ada kompensasi material bagi setiap luasan lahan yang beralih-guna menjadi tempat parkir, yang dibebankan ke para pemilik mobil. Masuk akal, meski terdengar utopis.
Kalau kita mau tarik ke lingkungan yang lebih luas, katakanlah Jakarta, kondisinya sama saja. Ledakan populasi kelas menengah telah memicu peningkatan jumlah pemilik mobil, membuat kebutuhan untuk lahan parkir menjadi sebuah keniscayaan. Dan yang menjadi korban biasanya lahan terbuka publik.
Pengelola lingkungan kampus UI Depok, atau Pemprov DKI, mungkin perlu belajar dari Enrique Peñalosa. Peñalosa adalah walikota Bogota, Kolombia, selama tiga tahun. Saat dia mulai menjabat pada 1998, hal pertama yang terpikir olehnya adalah bagaimana meningkatkan kualitas hidup 70 persen warga—mayoritas—yang tidak punya mobil.
Peñalosa sadar, kota yang nyaman bagi anak-anak dan orang-orang tua mungkin juga nyaman bagi setiap orang. Di bawah kepemimpinannya, Bogota pun menciptakan dan merenovasi 1.200 taman, memperkenalkan sistem transportasi massal (yang kemudian kita adaptasi secara serampangan dalam bentuk busway), membangun ratusan kilometer jalur pesepeda dan trotoar bagi pejalan kaki, mengurangi kemacetan hingga 40 persen, menanam 100.000 pohon, dan melibatkan warga secara aktif untuk memperbaiki lingkungan tempat mereka tinggal. Filosofi perencanaan perkotaan sejenis juga diterapkan oleh Jaime Lerner saat menjadi walikota Curitiba, Brasil, dengan menerapkan sistem transportasi massal yang terjangkau dan ramah penglaju (commuter).
Dalam perbandingan yang mungkin tidak “apple to apple”, filosofi untuk mereduksi penggunaan mobil pribadi juga terjadi di Eropa. Sebanyak 35 persen warga Amsterdam bersepeda atau berjalan kaki ke kantor, seperempatnya menggunakan sarana umum, dan 40 persen menyetir. Di Paris, kurang dari setengah penglaju mengandalkan mobil.
Para desainer di New York bahkan meramalkan, pada 2038, sebanyak 60 persen New Yorker akan jalan kaki ke kantor, dan kota tersebut akan menjadi “surga pejalan kaki”.
Mungkin sudah saatnya pula para walikota dan penata kota di Tanah Air, atau pengelola lingkungan yang lebih kecil seperti kampus UI Depok atau kawasan perkantoran mulai berpikir untuk membangun kota untuk manusia, bukan untuk mobil (pribadi). Integrasi jalur pejalan dan sepeda menuju sarana transportasi massal akan membuat kota terasa lebih nyaman untuk ditinggali. Polusi udara, suara, belum lagi gangguan psikologis akibat kemacetan pun bakal berkurang. Hidup sehat itu lebih enak, bukan?

Indonesia-AS Jalin Kemitraan Bahari

Posted by Firman Firdaus on May 26, 2010
Dalam kurun waktu Juli-Agustus 2010, kapal penelitian Amerika Serikat, Okeanos Explorer akan bergabung dengan Baruna Jaya IV, kapal penelitian Indonesia, guna melakukan ekspedisi ilmiah di perairan Sangir-Talaud, Sulawesi Utara.
Kerja sama ini secara resmi diluncurkan pada Rabu (26/5) oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat RI, Agung Laksono, dan Sekretaris Niaga AS, H.E. Gary Locke di sela-sela acara Perayaan Kemitraan Bahari Indonesia-AS di Pelabuhan Nelayan Komersial Muara Baru, Jakarta Utara.
Agung menyatakan penelitian ini sejalan dengan program pembangunan bahari Indonesia dan merupakan tindak lanjut dari Deklarasi Kelautan Manado (Manado Ocean Declaration) yang dicanangkan dalam World Ocean Conference di Sulawesi Utara tahun lalu. “Implementasi penelitian ini juga akan menguntungkan bagi para nelayan pada umumnya, skala besar maupun kecil,” ujar Agung.
Penelitian akan difokuskan pada morfologi laut, pemetaan bathymetri untuk mengetahui kontur dan kedalaman laut, oseanografi, serta karakteristik habitat di perairan tersebut. “Penelitian ini juga akan mencoba menggali potensi hidrotermal di wilayah tersebut beserta studi dampak aktivitas hidrotermalnya,” ujar Budi Sulistyo, Direktur Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non-tinggal, Departemen Kelautan dan Perikanan.
Selain menjadi penelitian pertama di perairan pulau-pulau terdepan tersebut, Budi menjelaskan, kajian bersama tim dari AS ini merupakan yang pertama yang melibatkan beberapa disiplin ilmu, yakni bidang kelautan, geologi, dan habitat.
Indonesia dan AS merupakan kontributor bagi Prakarsa Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle Initiative (CTI), kemitraan antara enam negara Asia Tenggara-Pasifik. Sekitar sepertiga sumber daya pesisir dan laut di daerah ini secara langsung menjadi tempat bergantungnya mata pencaharian masyarakat di daerah tersebut.
Dengan memahami kondisi fisik laut di kawasan tersebut,dapat diambil langkah-langkah terbaik untuk menerapkan pengelolaan perikanan dan pelestarian lingkungan laut secara berkelanjutan, termasuk upaya melindungi spesies yang terancam punah seperti penyu laut, hiu dan beberapa jenis tuna. Hal yang tidak kalah penting adalah sebagai bekal untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang kian mengancam.***

Video jebak berhasil rekam keluarga harimau



Posted by Firman Firdaus on January 7, 2010
Untuk pertama kalinya video jebak (video trap) yang dipasang oleh tim riset WWF-Indonesia di Sumatra Bagian Tengah, tepatnya di antara dua wilayah konservasi Suaka Margasatwa Rimbang Baling dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Propinsi Riau dan Jambi, berhasil merekam gambar harimau betina dan dua anaknya. Temuan ini memberikan informasi ilmiah dan unik mengenai tingkah laku satwa dilindungi tersebut.
Setelah beroperasi selama satu bulan, kamera video otomatis bersensor itu berhasil mendokumentasikan foto keluarga Harimau sumatra saat mereka berjalan melintasi dan mengendus video jebak tersebut.
Saat ini diperkirakan hanya terdapat sekitar 400 individu Harimau sumatra di alam liar dengan status kritis terancam punah (critically endangered) di mana keberadaan mereka terus terancam oleh rusaknya habitat, dan perdagangan serta perburuan ilegal.
Setelah lima tahun penelitian harimau menggunakan kamera jebak (camera trap) yang menghasilkan gambar tak bergerak, pada September 2009 WWF mulai menggunakan video jebak untuk melengkapi
temuan-temuan sebelumnya. Hasilnya, pada Oktober 2009 untuk pertama kalinya di kawasan tersebut induk harimau beserta anaknya dapat didokumentasikan dengan video jebak saat berada di alam.
“Memperoleh cuplikan video tersebut hanya dalam jangka waktu satu bulan setelah pemasangan kamera video merupakan suntikan moral yang sangat berarti bagi tim kami di lapangan,” jelas Karmila Parakkasi, koordinator Tim Riset Harimau Sumatra WWF-Indonesia. “Meski demikian, kami merasa khawatir karena hutan di kawasan tempat kami memperoleh video serta foto harimau tersebut terancam oleh pembukaan lahan oleh dua perusahaan pulp dan kertas raksasa, perkebunan kelapa
sawit, serta perambahan dan penebangan liar. Yang menjadi pertanyaan, bisakah anak-anak harimau tersebut tumbuh besar di lingkungan seperti ini?” kata Karmila.
Temuan video ini didapatkan hampir berdekatan waktunya dengan peluncuran kampanye “Year of Tiger” yang akan dimulai serentak secara global pada 14 Februari 2010, yaitu bersamaan dengan dimulainya tahun harimau dalam kalender penanggalan China. Kampanye ini akan dilaksanakan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, yang merupakan daerah sebaran harimau untuk meningkatkan kesadaran mengenai konservasi harimau.
Spesies harimau di seluruh dunia saat ini hanya tersisa 3.200 ekor yang meliputi enam subspesies yaitu Harimau sumatra, Bengal, Amur, Indochina, China Selatan, dan Malaya.
Selain mendapatkan gambar harimau betina dan dua anaknya, video jebak yang dipasang tersebut juga mendapatkan gambar harimau jantan dan satwa burunya yaitu babi hutan dan rusa, dan satwa lainnya seperti tapir, monyet ekor panjang, landak, dan luwak.
Video jebak bekerja dengan sensor infra merah yang otomatis bekerja saat sensor tersebut mengidentifikasi panas tubuh yang melintasinya. Peranti ini menjadi alat yang sangat penting dalam upaya mengidentifikasi individu harimau guna memonitor populasi serta habitat dan wilayah jelajahnya.
1.Video dapat di unduh di sini.
2. Foto resolusi tinggi dan peta dapat diunduh di sini, dengan mencantumkan copy right WWF-Indonesia/PHKA sebagaimana tercantum pada foto tersebut.

Pendekatan ekohidrologi untuk menangani krisis air

Posted by Firman Firdaus on December 8, 2009
Pengembangan dan aplikasi ilmu ekohidrologi dan ekoteknologi terbukti bisa memecahkan persoalan manajemen air perkotaan dengan biaya yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan membangun infrastuktur pengolahan air dengan teknologi tinggi.
“Meski masih dalam skala kecil, kami sudah mengaplikasikan ekoteknologi berupa penggunaan lahan basah buatan di Pesantren Cililin, dekat kawasan Waduk Saguling, Jawa Barat,” ungkap Dr. Gadis Sri Haryani, Kepala Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di sela-sela acara SWITCH-in-Asia Regional Partnership Workshop di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Selasa (8/12).
Di pesantren tersebut, Gadis menambahkan, air wudhu dari para santri dialirkan ke lahan basah buatan yang ditanami tetumbuhan yang berfungsi sebagai “filter” untuk menyerap dan menetralisir kuman dan pencemar lainnya. “Semacam bioremediasi,” jelas Gadis.
Ekohidrologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi proses hidrologi dan dinamika biologi dan/atau ekologi dalam kondisi spasial (ruang) dan temporal (waktu). Pendekatan ekohidrologi memandang persoalan air sebagai “sumber daya”, bukan hanya sebagai “air”.
Hingga akhir abad ke-20, hidrologi klasik masih berjalan terpisah dengan pendekatan ekologi. Pada 1990-an, dengan difasilitasi oleh dua badan di bawah UNESCO (badan PBB yang mengurusi masalah pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya) lahirlah integrasi ekologi dan hidrologi atau disingkat ekohidrologi.
Sementara itu, dalam kesempatan workshop, Gadis mengatakan bahwa kebutuhan air untuk penduduk kota besar, terutama di Asia bakal terus meningkat seiring pesatnya pertumbuhan penduduk di kawasan ini. “Perlu ada perubahan mendasar dalam pola pengelolaan air, karena pertumbuhan penduduk bukan hanya menyebabkan meningkatnya kebutuhan jumlah air melainkan juga berpengaruh terhadap kualitas air yang terancam pencemaran dan polusi,” papar Gadis.
Program SWITCH (Sustainable Water Management Improves Tomorrow’s Cities Health) yang didirikan IHE-UNESCO sejak 2006 dan berkedudukan di Delft, Belanda merupakan bagian dari upaya mengubah pola pengelolaan air, salah satunya dengan cara mengubah perilaku dan pola pikir manusia pengguna air.
Hubert Gijzen, Direktur dan Perwakilan Kantor UNESCO di Jakarta yang juga profesor di IHE-UNESCO mengatakan bahwa upaya mengubah sikap dan perilaku pengguna air merupakan langkah awal untuk mengatasi rumitnya permasalahan air khususnya di perkotaan. “Hanya mengandalkan pendekatan teknologi saja sudah terbukti gagal dan lebih banyak memakan biaya. Dengan program SWITCH, kita melihat persoalan air secara menyeluruh,” ujar Hubert.
Partnership workshop ini dihadiri oleh 75 peserta dari 18 negara di Asia, di mana wakil dari tiap negara akan memaparkan pandangan, temuan, teknologi, dan program yang telah dimulai di negaranya sebagai bahan studi banding bagi negara lain.