Selasa, 07 Februari 2012

Syukur Awal Tahun

Posted by Ukirsari on January 20, 2012

(c) ukirsari 2012
Berbagai tempat di belahan dunia memiliki cara menyambut tahun baru. Kali ini pengalaman menarik saya dapatkan bersama komunitas creole Kampung Tugu yang bermukim di Jakarta utara. Kesempatan ini tiba pasca peliputan saya bersama Sony Warsono dan Christian Marvy Pattiasina dalam team National Geographic Traveler.

Pada malam menjelang pergantian tahun 2011 ke 2012, para penutur creole Portugis–yang merunut sejarah dibawa penjajah Belanda ke Indonesia dari Malaka–berdoa bersama serta menyalakan lilin di makam Gereja Tugu. Esok hari, dilangsungkan acara ibadat di gereja dan lewat tengah hari digelarlah acara yang dikenal sebagai Rabu-Rabu.
Konsepnya berkeliling untuk silaturahmi sembari membawa peralatan musik keroncong khas Kampung Tugu. “Mirip ngamen keliling,” jelas Alberto Quiko, seorang penduduk Kampung Tugu. Acara diawali dari satu klan yang bertandang ke klan lainnya sambil menyanyikan beberapa lagu, disambut dengan bersalaman, berpelukan serta hidangan ringan. Dari sini, anggota klan yang didatangi turut bersama rombongan menuju lokasi berikutnya, sehingga iring-iringan dalam barisan semakin panjang.
(c) ukirsari 2012
(c) ukirsari 2012
Lagu-lagu yang dibawakan dari satu rumah klan ke klan lainnya bervariasi, mulai lagu Portugis, Belanda sampai Betawi, tetapi pamungkasnya selalu sama; gelang sipaku gelang, gelang si rama-rama, mari pulang, marilah pulang. Demikian nyanyi Guido Quiko, pimpinan kelompok Cafrinho, Musica de Tugu sembari memetik gitarnya, diikuti peserta Rabu-Rabu.
Acara baru rampung setelah rumah klan creole Portugis terakhir didatangi. Di sinilah para peserta iring-iringan dijamu santap malam, melakukan doa bersama serta mendengarkan pengumuman kapan dilangsungkan perhelatan Mandi-Mandi serta lokasi pelaksanaannya.
Mandi-Mandi juga dikenal sebagai acara Syukur Awal Tahun, digelar pada minggu pertama setelah tahun baru. Perhelatan dikemas dalam doa bersama, santap siang, menyanyikan lagu-lagu keroncong khas Kampung Tugu serta melakukan hal paling dinanti dalam perhelatan ini: saling mengoleskan bedak dicampur air. “Jangan berlari atau menghindar, karena kalau menjauh akan semakin dikejar,” begitu nasehat Oma Erny, salah satu sesepuh Ikatan Keluarga Besar Tugu atau IKBT.
(c) aria widyanto
(c) aria widyanto
Begitulah, ketika saya tengah sibuk mengambil gambar dalam posisi “bersembunyi” di pendopo tempat kelompok pemusik Cafrinho memainkan komposisi lagu, seseorang mendekat seraya berkata, “Permisi!” Detik berikutnya, dahi sudah tercoreng. Disusul lagi dengan kalimat senada dan kalimat, “Saya berdoa untuk kebahagiaanmu sepanjang tahun!” kembali bagian dari wajah terkena coretan.
Sebentar saja, saya sudah melupakan niat memotret dan menghambur mencari mangkuk campuran bedak agar dapat menorehkan “tanda tangan” di wajah-wajah yang lain; baik seusia, lebih muda sampai lebih tua. Semua larut dalam kegembiraan yang tertuang lewat tawa, nyanyian serta berbagai komentar serupa doa bagi kebahagiaan pihak tercoreng bedak.
Perhelatan itu, sungguh membawa saya pada nuansa jenaka, bangga, sekaligus haru dalam memandang komunitas Kampung Tugu. Dengan kesungguhan hati mereka melestarikan acara seni budaya leluhur mereka dan dengan ketulusan mengundang saya untuk menghadiri seremoni mereka. Sebuah rasa yang tak dapat diungkap lewat kata.
(c) aria widyanto
(c) aria widyanto
Terima kasih mendalam serta ucapan selamat tahun baru saya sampaikan kepada IKBT. Semoga kebahagiaan dan kedamaian selalu bersama Anda semua. Buat sahabat saya, Aria Widyanto yang membantu mengabadikan momentum Mandi-Mandi, untuk pasangan saya tercinta, Nicholas yang ikut serta menyanyi dalam iring-iringan Rabu-Rabu dan kedua rekan saya Fandi Ahmad Armayuzar serta Christian Marvy Pattiasina, terima kasih atas dukungannya selalu, selamat membuka lembaran tahun baru dengan sukacita serta penuh doa.
* Lebih jauh mengenal Kampung Tugu dan komunitas penutur creole Portugis, simak artikelnya dalam National Geographic Traveler edisi Februari 2012 *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar