Posted by Firman Firdaus on January 7, 2010
Untuk pertama kalinya video jebak (video trap) yang
dipasang oleh tim riset WWF-Indonesia di Sumatra Bagian Tengah, tepatnya
di antara dua wilayah konservasi Suaka Margasatwa Rimbang Baling dan
Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Propinsi Riau dan Jambi, berhasil
merekam gambar harimau betina dan dua anaknya. Temuan ini memberikan
informasi ilmiah dan unik mengenai tingkah laku satwa dilindungi
tersebut.
Setelah beroperasi selama satu bulan, kamera video otomatis bersensor itu berhasil mendokumentasikan foto keluarga Harimau sumatra saat mereka berjalan melintasi dan mengendus video jebak tersebut.
Saat ini diperkirakan hanya terdapat sekitar 400 individu Harimau sumatra di alam liar dengan status kritis terancam punah (critically endangered) di mana keberadaan mereka terus terancam oleh rusaknya habitat, dan perdagangan serta perburuan ilegal.
Setelah lima tahun penelitian harimau menggunakan kamera jebak (camera trap) yang menghasilkan gambar tak bergerak, pada September 2009 WWF mulai menggunakan video jebak untuk melengkapi
temuan-temuan sebelumnya. Hasilnya, pada Oktober 2009 untuk pertama kalinya di kawasan tersebut induk harimau beserta anaknya dapat didokumentasikan dengan video jebak saat berada di alam.
“Memperoleh cuplikan video tersebut hanya dalam jangka waktu satu bulan setelah pemasangan kamera video merupakan suntikan moral yang sangat berarti bagi tim kami di lapangan,” jelas Karmila Parakkasi, koordinator Tim Riset Harimau Sumatra WWF-Indonesia. “Meski demikian, kami merasa khawatir karena hutan di kawasan tempat kami memperoleh video serta foto harimau tersebut terancam oleh pembukaan lahan oleh dua perusahaan pulp dan kertas raksasa, perkebunan kelapa
sawit, serta perambahan dan penebangan liar. Yang menjadi pertanyaan, bisakah anak-anak harimau tersebut tumbuh besar di lingkungan seperti ini?” kata Karmila.
Temuan video ini didapatkan hampir berdekatan waktunya dengan peluncuran kampanye “Year of Tiger” yang akan dimulai serentak secara global pada 14 Februari 2010, yaitu bersamaan dengan dimulainya tahun harimau dalam kalender penanggalan China. Kampanye ini akan dilaksanakan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, yang merupakan daerah sebaran harimau untuk meningkatkan kesadaran mengenai konservasi harimau.
Spesies harimau di seluruh dunia saat ini hanya tersisa 3.200 ekor yang meliputi enam subspesies yaitu Harimau sumatra, Bengal, Amur, Indochina, China Selatan, dan Malaya.
Selain mendapatkan gambar harimau betina dan dua anaknya, video jebak yang dipasang tersebut juga mendapatkan gambar harimau jantan dan satwa burunya yaitu babi hutan dan rusa, dan satwa lainnya seperti tapir, monyet ekor panjang, landak, dan luwak.
Video jebak bekerja dengan sensor infra merah yang otomatis bekerja saat sensor tersebut mengidentifikasi panas tubuh yang melintasinya. Peranti ini menjadi alat yang sangat penting dalam upaya mengidentifikasi individu harimau guna memonitor populasi serta habitat dan wilayah jelajahnya.
1.Video dapat di unduh di sini.
2. Foto resolusi tinggi dan peta dapat diunduh di sini, dengan mencantumkan copy right WWF-Indonesia/PHKA sebagaimana tercantum pada foto tersebut.
Setelah beroperasi selama satu bulan, kamera video otomatis bersensor itu berhasil mendokumentasikan foto keluarga Harimau sumatra saat mereka berjalan melintasi dan mengendus video jebak tersebut.
Saat ini diperkirakan hanya terdapat sekitar 400 individu Harimau sumatra di alam liar dengan status kritis terancam punah (critically endangered) di mana keberadaan mereka terus terancam oleh rusaknya habitat, dan perdagangan serta perburuan ilegal.
Setelah lima tahun penelitian harimau menggunakan kamera jebak (camera trap) yang menghasilkan gambar tak bergerak, pada September 2009 WWF mulai menggunakan video jebak untuk melengkapi
temuan-temuan sebelumnya. Hasilnya, pada Oktober 2009 untuk pertama kalinya di kawasan tersebut induk harimau beserta anaknya dapat didokumentasikan dengan video jebak saat berada di alam.
“Memperoleh cuplikan video tersebut hanya dalam jangka waktu satu bulan setelah pemasangan kamera video merupakan suntikan moral yang sangat berarti bagi tim kami di lapangan,” jelas Karmila Parakkasi, koordinator Tim Riset Harimau Sumatra WWF-Indonesia. “Meski demikian, kami merasa khawatir karena hutan di kawasan tempat kami memperoleh video serta foto harimau tersebut terancam oleh pembukaan lahan oleh dua perusahaan pulp dan kertas raksasa, perkebunan kelapa
sawit, serta perambahan dan penebangan liar. Yang menjadi pertanyaan, bisakah anak-anak harimau tersebut tumbuh besar di lingkungan seperti ini?” kata Karmila.
Temuan video ini didapatkan hampir berdekatan waktunya dengan peluncuran kampanye “Year of Tiger” yang akan dimulai serentak secara global pada 14 Februari 2010, yaitu bersamaan dengan dimulainya tahun harimau dalam kalender penanggalan China. Kampanye ini akan dilaksanakan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, yang merupakan daerah sebaran harimau untuk meningkatkan kesadaran mengenai konservasi harimau.
Spesies harimau di seluruh dunia saat ini hanya tersisa 3.200 ekor yang meliputi enam subspesies yaitu Harimau sumatra, Bengal, Amur, Indochina, China Selatan, dan Malaya.
Selain mendapatkan gambar harimau betina dan dua anaknya, video jebak yang dipasang tersebut juga mendapatkan gambar harimau jantan dan satwa burunya yaitu babi hutan dan rusa, dan satwa lainnya seperti tapir, monyet ekor panjang, landak, dan luwak.
Video jebak bekerja dengan sensor infra merah yang otomatis bekerja saat sensor tersebut mengidentifikasi panas tubuh yang melintasinya. Peranti ini menjadi alat yang sangat penting dalam upaya mengidentifikasi individu harimau guna memonitor populasi serta habitat dan wilayah jelajahnya.
1.Video dapat di unduh di sini.
2. Foto resolusi tinggi dan peta dapat diunduh di sini, dengan mencantumkan copy right WWF-Indonesia/PHKA sebagaimana tercantum pada foto tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar