Hari raya China, kerap disebut Imlek atau Xin Chia, juga Chun Jie–seperti
cara teman-teman saya di Taiwan menyebutnya–merupakan perhelatan tahun
baru yang dinanti seluruh warga keturunan Tionghoa. Kali ini saya
berkesempatan merayakannya bersama komunitas China Benteng di Tangerang.
Bersama Diyah Wara Restiyati dari Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina) perhentian pertama adalah kediaman pasangan muda Christina dan Hendra Liem di kawasan Pasar Baru Tangerang. Kami dijamu berbagai hidangan perayaan khas tahun baru mereka, di antaranya jeruk mandarin, kue keranjang, pindang bandeng dan ayam kunyit. “Bandeng memiliki arti rezeki dan punya keunikan, karena merupakan ikan yang hidup di air payau,” kata Diyah. Sementara Christina, sang nyonya rumah menambahkan, “Jeruk berarti hoki dan sebenarnya masih ada beberapa menu khas China Benteng dalam perayaan ini, seperti ayam keluak.”
Ditambah rekan Suk Li dan Bolo, perjalanan berlanjut ke kelenteng Boen Tek Bio di Pasar Lama Tangerang. Saya mengamati para pengunjung mendaraskan doa, sekaligus terpukau dengan nyala lilin-lilin merah berbagai ukuran, mulai yang dapat dipegang satu tangan sampai harus dipeluk (ibaratnya) karena memiliki dimensi demikian besar. Lilin terbesar konon menyala sampai setahun lamanya, demikian jelas Hendra yang diakrabi sebagai Acong.
Kedekatan komunitas China Benteng Tangerang dengan Dewi Kwan Im disebut Acong sangatlah istimewa. “Kami menyapa beliau dengan sebutan Mak alias ibunda, sebagai sebuah perwujudan kedekatan emosional,” paparnya dalam logat bicara khas. “Dari cerita-cerita zaman dulu, saya masih terngiang, warga keturunan di sini bila akan pergi beribadah atau berdoa minta sesuatu semisal agar anggota keluarga lekas sembuh, kalimat berpamitan yang terucap adalah, ‘Pergi dulu, ye. Mau berdoa sama Mak.’ Ini adalah sebuah bukti dekatnya ikatan personal kami dengan beliau.”
Meski petang sudah turun sempurna, Pasar Lama Tangerang saat itu tetap disibukkan aktivitas jual-beli barang berkenaan perayaan Imlek seperti amplop angpao, peranti sesembahan semisal hio dan aksesoris perlambang barang-barang duniawi yang akan dibakar untuk anggota keluarga yang sudah tiada, seperti replika pakaian, gaun, sandal dan tas. Juga tersedia kue keranjang dan buah-buahan sampai bunga segar. Makin meriah, karena pengamen menghibur pengunjung dengan instrumen lengkap di beberapa sudut.
Selain suasana pasar yang demikian hidup, saya tertarik mengamati beberapa rumah tua berarsitektur khas Tiongkok dengan atap model pelana kuda di sekitar kelenteng Boen Tek Bio. Altar-altar kayu atau meja abu, dupa atau hio nyala, sesembahan berupa buah-buahan dan beberapa barang serta potret hitam putih yang dipajang dalam bingkai membawa saya pada sebuah atmosfer sendu tetapi indah. Beberapa langkah dari kelenteng dapat dijumpai sebuah rumah tua yang beralih fungsi menjadi Benteng Heritage Museum dan dibuka mulai 11 November 2011 lalu.
Dari kelenteng Boen Tek Bio, kami mengarah ke kelenteng Boen San Bio. “Salah satu keunikan vihara ini adalah bangunan yang tidak mengandung unsur kayu,” bilang Acong. Lainnya, sebuah kantin di bagian belakang kelenteng yang menyajikan hidangan vegetarian secara cuma-cuma. Konsep ini mengingatkan saya kepada Golden Temple atau Harmandir Sahib di kota Amritsar, India serta seluruh gurudwara atau tempat peribadatan pemeluk Sikh yang menyediakan hidangan gratis sebagai perwujudan konsep kesetaraan setiap orang di mata Sang Pencipta. Malam itu, di kelenteng Boen San Bio kami menikmati laksa bihun dan menurut kepercayaan, bihun atau mie berbahan tepung beras juga menjadi perlambang harapan panjang usia.
Setelah mencuci muka dan tangan di pancuran Sumber Rejeki, mengucap harapan di tahun baru Imlek serta mengunjungi beberapa lokasi untuk berdoa dalam lingkungan kelenteng, tiba saatnya menyaksikan tarian liong (naga) dan barongsai (singa). Sebagai seorang penari liong, Suk Li menuturkan, pertunjukan ini bukanlah hiburan semata, namun memiliki nilai sakral. ”Karena itu kami melakukan ritual doa sebelum dan sesudah pertunjukan,” ujarnya. “Tanpa berdoa, kepala naga yang diangkat terasa berat, langkah dalam melakukan pergerakan kurang lincah. Tetapi bila sudah berdoa, beban yang dipikul terasa ringan. Gerakan menjadi dinamis dan ritmis. Di luar itu, tentu kami tekun berlatih.”
Tanpa terasa, tengah malam sudah lewat. Inilah hari raya Imlek yang ditunggu-tunggu, seiring makin membanjirnya para umat untuk berdoa. Kami kembali ke vihara Boen Tek Bio, kali ini karena saya dan Diyah ingin mencari cendera mata. Salah satu benda yang membuat saya tersenyum adalah gelang dari untaian beberapa koin kecil beraksara China. Benda serupa saya dapatkan setahun silam di gerai souvenir tentara tepi danau Pangong Tso, wilayah Ladakh, provinsi Jammu - Kashmir di India, pada ketinggian sekitar 4.350 meter di atas permukaan laut. Ah, kenangan indah! Semoga kemunculan benda ini adalah perlambang harapan baik; bahwa saya makin diberkati sebagai pejalan di masa mendatang. Amen!
* Terima kasih khusus kepada keluarga Acong dan Christina, Diyah, Suk Li dan Bolo atas kebersamaan dan hospitality selama saya bertandang ke Tangerang. Sampai jumpa lagi *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar